
Watunggong memberinya ruang dan cinta yang tulus serta membentuknya menjadi seorang Imam yang siap melayani. Watunggong yang meski topografi serta jalannya buruk namun senyum dan penerimaan umat menjadi kekayaan yang memotivasi dalam perjalanan imamat.
Kolase foto perpisahan dan perutusan RD Agustinus Fransiskus Naring Kiven di Paroki St Eduardus Watunggong
Pertemuan dan perpisahan merupakan satu siklus yang tak bisa dihindari dalam kehidupan manusia.
Pada peristiwa pertemuan selalu diwarnai dengan sukacita namun ketika tiba pada saat perpisahan, yang dirasakan adalah keberatan hati untuk melepaskan.
Seperti dialunkan dalam lirik lagu "bukan perpisahan yang kutangisi tetapi pertemuanlah yang kami sesali." Itulah dirasakan dan dialami umat Paroki St Eduardus Watunggong.
Hari Minggu, 19 Juli 2026 merupakan waktu yang mengundang tangis dan air mata, kesedihan dan berat hati. Hari ini merupakan kebersamaan terakhir antara umat dengan sang gembala RD. Agustinus Fransiskus Naring Kiven (Romo Kiven).
Setelah berkarya di Watunggong selama sembilan bulan dua hari sebagai Imam, kini Romo Kiven harus rela dalam ketaatan untuk sebuah tugas perutusan baru yang diembankan kepadanya.
Dalam sambutannya, Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP), Bapak Ignatius Randus mengatakan bahwa waktu 9 bilan serasa seperti 9 tahun dengan pelayanan luar biasa yang dirasakan umat.
Pelayanan yang dilakukan serasa pelayanan 9 tahun yang dipadatkan dalam waktu sembilan bulan karena berbagai perubahan dan semangat yang ditunjukkan RD. Kiven.
Watunggong menjadi orang tua pertama dan paroki pertama yang mengutus Romo untuk studi maka ini bukanlah perpisahan.
Lanjut dikatakan "Kalau libur nanti, Romo wajib berkunjung di Watunggong".
Sementara itu, dalam sambutan dan kata-kata terakhirnya, RD. Kiven menyampaikan bahwa hatinya masih berat untuk pergi.
"Jujur, saya masih merasa berat untuk pergi. Saya belum puas ada, berjalan bersama dengan umat di Paroki St Eduardus Watunggong. Namun, sebagaimana janji dalam rahmat imamat, saya harus taat untuk pergi", ungkapnya.
Dikatakannya bahwa Watunggong merupakan cinta pertama yang pastinya tidak akan pernah dilupakan. Akan selalu ada dalam setiap doanya.
Watunggong memberinya ruang dan cinta yang tulus serta membentuknya menjadi seorang Imam yang siap melayani. Watunggong yang meski topografi serta jalannya buruk namun senyum dan penerimaan umat menjadi kekayaan yang memotivasi dalam perjalanan imamat.
Pada saat ramah Tamah, Pastor Paroki, RD. Martinus Gunardi Kendo (RD. Maken) menyampaikan bahwa selama 9 bulan menjadi Imam, Watunggong menjadi rahim menjadi rahim bertumbuh dan berkembangnya RD. Kiven. Rahim yang memberi ruang baru untuk pertumbuhan panggilan.
"Romo Kiven adalah sahabat dan saudara sepanggilan. Selama kami bersama dalam karya pelayanan, RD. Kiven telah dan sangat membantu dalam segala hal. Mengisi setiap ruang kosong dengan semangat dan inisiatif yang membarui," kata RD. Maken.
Tampak Umat yang hadir pada moment tersebut tak kuasa menahan tangis dan air mata. Mereka berjabatan tangan dengan berderai air mata.
Pada misa perutusan, Orang Muda Katolik (OMK) pusat Paroki tampil dengan baik dalam liturgi dan koor. Mereka menyanyikan semua lagu dengan amat baik sebagai bentuk dan ungkapan terimakasih kepada RD. Kiven yang selama ini telah ada, hadir bersama mereka dalam beragam dinamika yang membantu mereka bertumbuh dalam rohani dan jasmani, dalam pelayanan pastoral dan pelayanan profan.
Malam hari dilanjutkan dengan acara perpisahan serta penyerahan Cinderamata kepada RD. Kiven oleh OMK dan Kelompok Sekami.
Selamat jalan menuju tempat perutusan terbabru Romo. Kami pasti selalu mengingatmu dalam doa-doa kami. Selalu ada namamu di salah satu sudut ruang hati kami.***