
Kiranya kita memilih setiap hari untuk menjadi gandum yang setia: tetap bertumbuh meski dikelilingi lalang, tetap mengasihi meski kebencian mengelilingi, tetap membawa damai di tengah pertikaian, dan tetap berharap ketika dunia terasa gelap.
Mukjizat terbesar bukanlah berubahnya keadaan, melainkan hati yang kembali percaya karena kehadiran Kristus. Seperti Marta, kita diajak tetap percaya bahwa di hadapan Kristus, tidak ada kubur yang dapat mengalahkan harapan.
Dalam keheningan dan hal-hal kecil yang sering dianggap sepele, Tuhan tidak pernah berhenti bekerja: Ia sedang menumbuhkan iman, mematangkan harapan, dan menjadikan hidup kita berkat bagi sesama melalui Kerajaan-Nya yang bertumbuh perlahan namun pasti.
Tahta yang dicari manusia berubah menjadi cawan di tangan Yesus. Dari cawan pengorbanan itulah lahir kemuliaan. Sebab, di hadapan Allah, yang terbesar bukanlah tentang menjadi yang paling tinggi, tetapi yang paling dalam mengasihi dan menjadi berkat.
Hari ini, kita diajak bukan sekadar menjadi pendengar firman, melainkan menjadi tanah yang baik. Tanah yang rela dibajak oleh pertobatan, disiram oleh doa, dan diterangi oleh kasih. Sebab hanya hati yang bersedia diolah akan menghasilkan buah yang memberi kehidupan bagi sesama, meskipun masalah mungkin selalu ada, tetapi damai juga akan tetap hadir atau air mata mungkin masih jatuh, tetapi harapan tidak lagi padam.
Dalam Matius28:1; Markusnl16:1; dan Lukas24:1-10 dikisahkan bahwa Maria bersama beberapa orang wanita lainnya pergi ke kubur Yesus untuk mengurapi jenazah Yesus pada hari Minggu Paskah. Berita kebangkitan Yesus disampaikan oleh para malaikat kepada beberapa orang wanita. Meskipun demikian, Maria Magdalena adalah satu-satunya wanita yang dikatakan sebagai orang pertama yang melihat Yesus setelah bangkit dari kubur (Yoh20:11-18). Maria berasal dari desa Magdala.