
Saat kedua anak, seorang perempuan dan seorang laki-laki, membacakan surat, mata para orangtua berkaca-kaca. Kata-kata yang terbaca merupakan isi hati orangtua yang jujur dan tulus. Isi surat si anak perempuan memuat ungkapan terima kasih karena si anak sudah siap menerima Tubuh Kristus. Selain itu, surat itu mengungkapkan harapan orangtua agar si anak bertumbuh menjadi anak Kristus yang baik pun menjadi peserta didik yang berakhlak. Menariknya, surat itu juga berisikan permohonan maaf dari oran
Safeguarding atau perlindungan anak, lanjut Romo Beben, adalah tanggung jawab bersama — terutama orang tua — agar anak dapat tumbuh tanpa rasa takut, terancam, atau diperlakukan salah. Pengasuhan yang disertai kasih yang tulus akan menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan iman dan kepribadian anak, terlebih saat anak-anak ini akan segera menerima Sakramen Ekaristi, tanda kasih Tuhan yang tak terhingga.
Keterlibatan para orang tua dalam pembinaan ini memiliki makna yang dalam. Di samping memenuhi ketentuan dan persyaratan yang berlaku di Paroki St. Eduardus Watunggong, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk menanamkan nilai iman dalam perbuatan nyata: mengasihi Tuhan dan sesama lewat karya bersama.
Materi disajikan dengan cara yang menarik, salah satunya melalui sesi bertema “Satu Tubuh Banyak Anggota” yang diperagakan lewat permainan seru sehingga anak-anak lebih mudah menangkap makna persatuan dalam Kristus.
Marilah kita hidup dengan dua keyakinan ini: kita berada di tangan Allah yang membentuk, dan kita sedang berjalan menuju pantai Kerajaan Allah. Selama perjalanan itu masih berlangsung, jangan takut dibentuk, jangan lelah bertobat, dan jangan berhenti percaya bahwa rahmat Tuhan selalu lebih besar daripada keretakan kita.
Kiranya kita memilih setiap hari untuk menjadi gandum yang setia: tetap bertumbuh meski dikelilingi lalang, tetap mengasihi meski kebencian mengelilingi, tetap membawa damai di tengah pertikaian, dan tetap berharap ketika dunia terasa gelap.