
Melalui pelaksanaan Misa Alam ini, OMK St. Eduardus Watunggong menunjukkan kerinduan mereka untuk semakin dekat dengan alam sekaligus menyadari kebesaran Tuhan yang nyata dalam seluruh ciptaan. Kegiatan ini menjadi wujud iman yang hidup, yang tidak hanya dirayakan dalam liturgi, tetapi juga diwujudkan dalam kepedulian terhadap lingkungan dan kebersamaan.
Dikatakan bahwa ada "penunggu" di dalam gua berupa seekor belut besar tambun. Selain itu dinding-dinding gua bak gorden yang dipahat. Bebatuannya sangat unik bagai prasasti peninggalan masa purba. Bahkan ada beberapa batu yang bentuknya mirip manusia. Fenomena-fenomena tersebut membuat gua Witu Niki unik dan patut didatangi.
Atas dasar keprihatinan sembari mengisi masa puasa dan Prapaskah orang muda Katolik St. Eduardus merasa terpanggil untuk harus bergerak membersihkan bahu jalan jalur Watunggong-Lok Pahar sebagai bentuk mencintai ibu bumi dan mengantisipasi terjadinya kecelakan lalu lintas akibat tingginya belukar di sepanjang jalan tersebut.
Diamnya Yosef bukanlah sebuah kepasifan. Sikap diamnya adalah penyerahan diri yang aktif pada Tuhan. Dalam diamnya, ia menunjukkan cinta yang luar biasa untuk menerima dengan tulus hal yang tak ia mengerti serta melaksanakan dengan taat perintah yang ia terima.
Kita perlu ingat bahwa Tuhan tidak selalu bekerja melalui keajaiban-keajaiban yang spektakuler. Ia justru sering hadir dalam realitas harian yang sifatnya biasa. Tugas kita adalah melihat realitas itu dengan lebih dalam dan menemukan di dalamnya Dia yang "Pengasih dan Penyayang".
Aturan tidak hanya memastikan keteraturan hidup bersama. Aturan juga harus bisa menjamin semua manusia hidup layak, baik, dan aman di balik keteraturan itu.