
Melalui aksi ini, umat Paroki St. Eduardus Watunggong memperlihatkan bahwa Gereja bukan semata-mata bangunan fisik, melainkan persekutuan orang-orang beriman yang tetap teguh, saling menopang, dan terus berjalan bersama, bahkan ketika menghadapi kesulitan. Semangat ini sejalan dengan pesan Santo Yakobus: “Iman tanpa perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:26). Iman tidak berhenti pada kata-kata dan doa, tetapi mendorong setiap orang untuk melakukan sesuatu yang baik bagi sesama dan bagi kehidupan bers
Pertemuan ini menjadi tanda bahwa karya pastoral Gereja membutuhkan keterlibatan dan kerja sama banyak pihak. Dukungan paroki, kesediaan para suster, serta komunikasi dengan pimpinan kongregasi menjadi bagian penting dalam mempersiapkan pelayanan yang berkelanjutan.
Kunjungan ini sekaligus menjadi tindak lanjut dari hasil rapat DPP dan DKP mengenai rencana kehadiran dan menetapnya para Suster PSM di Paroki Watunggong. Rencana tersebut diharapkan menjadi bagian dari pengembangan karya pastoral sekaligus memperkaya pelayanan Gereja di tengah umat.
Bantuan yang disalurkan Caritas Keuskupan Ruteng bersama para relawan dan pengurus stasi menjadi bukti bahwa semangat gotong royong dan solidaritas tetap hidup di tengah masyarakat. Lebih dari sekadar terpal, sembako, pakaian, atau kebutuhan lainnya, bantuan ini membawa pesan bahwa setiap penyintas tetap berharga, tidak dilupakan, dan selalu memiliki saudara yang bersedia berjalan bersama mereka.
Perjalanan Karitas ke Paroki St. Eduardus Watunggong menjadi sebuah kesaksian sederhana namun kuat: kasih tidak mengenal jalan yang terlalu jauh ketika ada manusia yang harus dijumpai. Dan mungkin, di sanalah makna terdalam Caritas menemukan wajahnya: datang, hadir, mendengarkan, melayani, dan berjalan bersama mereka yang menderita.
Terima kasih kepada Bapak Jimmy Widjaja atas kepedulian dan bantuan kemanusiaan yang diberikan. Terima kasih pula kepada Pendeta Ronal, Babinsa Kecamatan Congkar, serta semua pihak yang telah mengambil bagian dalam menghadirkan kepedulian bagi umat Paroki St. Eduardus Watunggong.