
Keterlibatan para orang tua dalam pembinaan ini memiliki makna yang dalam. Di samping memenuhi ketentuan dan persyaratan yang berlaku di Paroki St. Eduardus Watunggong, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk menanamkan nilai iman dalam perbuatan nyata: mengasihi Tuhan dan sesama lewat karya bersama.
Materi disajikan dengan cara yang menarik, salah satunya melalui sesi bertema “Satu Tubuh Banyak Anggota” yang diperagakan lewat permainan seru sehingga anak-anak lebih mudah menangkap makna persatuan dalam Kristus.
Umat masih ingin bersama dengan Romo Kiven namun ketaatan pada tugas membuat segala keinginan harus dilepas untuk kebutuhan Keuskupan. Romo Kiven harus pergi, Romo harus menjawab ya dan umat mesti rela melepaskan dalam misi perutusan demi kemuliaan nama Allah.
Watunggong memberinya ruang dan cinta yang tulus serta membentuknya menjadi seorang Imam yang siap melayani. Watunggong yang meski topografi serta jalannya buruk namun senyum dan penerimaan umat menjadi kekayaan yang memotivasi dalam perjalanan imamat.
Para peserta dibekali dengan materi-materi yang mendalam, bernas, dan sangat relevan dengan tantangan pelayanan masa kini. Pengetahuan ini menjadi bekal utama bagi para pemimpin umat untuk mengimplementasikan program Paroki Sayang Anak (PSA), serta memahami langkah-langkah nyata dalam mencegah, meminimalisir dan menangani kasus-kasus kekerasan maupun pelecehan seksual yang sayangnya masih terjadi di tengah masyarakat.
Orang Muda Katolik (OMK) Paroki St. Eduardus Watunggong menunjukkan kepedulian nyata terhadap sesama lewat aksi sosial. Mereka berhasil memfasilitasi pengadaan dan pemasangan meteran listrik bagi keluarga Bapak Yosef Ornei, warga Watunggong, Desa Satar Nawang, Kecamatan Congkar, Kabupaten Manggarai Timur.