
Kunjungan ini sekaligus menjadi tindak lanjut dari hasil rapat DPP dan DKP mengenai rencana kehadiran dan menetapnya para Suster PSM di Paroki Watunggong. Rencana tersebut diharapkan menjadi bagian dari pengembangan karya pastoral sekaligus memperkaya pelayanan Gereja di tengah umat.
Bantuan yang disalurkan Caritas Keuskupan Ruteng bersama para relawan dan pengurus stasi menjadi bukti bahwa semangat gotong royong dan solidaritas tetap hidup di tengah masyarakat. Lebih dari sekadar terpal, sembako, pakaian, atau kebutuhan lainnya, bantuan ini membawa pesan bahwa setiap penyintas tetap berharga, tidak dilupakan, dan selalu memiliki saudara yang bersedia berjalan bersama mereka.
Perjalanan Karitas ke Paroki St. Eduardus Watunggong menjadi sebuah kesaksian sederhana namun kuat: kasih tidak mengenal jalan yang terlalu jauh ketika ada manusia yang harus dijumpai. Dan mungkin, di sanalah makna terdalam Caritas menemukan wajahnya: datang, hadir, mendengarkan, melayani, dan berjalan bersama mereka yang menderita.
Kehadiran Frater Andre membawa angin segar. Semangat baru membara di hati para anggota koor; suasana latihan berjalan penuh sukacita, santai namun tetap serius. Setiap nada yang dilatih diiringi kehangatan persaudaraan, membuat semua merasa menikmati setiap prosesnya. Keindahan suara koor seolah menjadi jembatan yang mengangkat hati kepada Tuhan, memperindah perayaan sakramen Pernikahan Suci tersebut.
Saat kedua anak, seorang perempuan dan seorang laki-laki, membacakan surat, mata para orangtua berkaca-kaca. Kata-kata yang terbaca merupakan isi hati orangtua yang jujur dan tulus. Isi surat si anak perempuan memuat ungkapan terima kasih karena si anak sudah siap menerima Tubuh Kristus. Selain itu, surat itu mengungkapkan harapan orangtua agar si anak bertumbuh menjadi anak Kristus yang baik pun menjadi peserta didik yang berakhlak. Menariknya, surat itu juga berisikan permohonan maaf dari oran
Safeguarding atau perlindungan anak, lanjut Romo Beben, adalah tanggung jawab bersama — terutama orang tua — agar anak dapat tumbuh tanpa rasa takut, terancam, atau diperlakukan salah. Pengasuhan yang disertai kasih yang tulus akan menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan iman dan kepribadian anak, terlebih saat anak-anak ini akan segera menerima Sakramen Ekaristi, tanda kasih Tuhan yang tak terhingga.