
Kehidupan kaum muda saat ini tak terlepas dari media sosial, namun hal ini juga sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi kaum muda apakah mereka akan terus berada pada zona pewartaan diri ataukah juga turut mengeksplore dan mewartakan Injil lewat media sosial miliknya. Katekese kali ini mengajak kaum muda untuk lebih bijak menggunakan media sosila dan memotivasi agar mereka setia serta turut menjadi "Influencer Tuhan".
Kegiatan Katekese Pertemuan OMK St. Eduardus Watunggong
Orang Muda Katolik (OMK) St Eduardus Watunggong bergerak lebih cepat. Mereka sigap menjawab dan menjemput kegiatan Katekese Tahun Sinode 4 dan APP tahun 2026.
Pada hari Sabtu, 28 Februari 2026 di rumah pastoran Paroki Watunggong, mereka mengadakan kegiatan Katekese Pertemuan pertama, dibawah tema : Pewartaan Sabda Allah-Berselancar di Media Sosial.
Saudari Agnes Phoeby Patriani sebagai Fasilitator mengajak dan membawa peserta masuk dalam pemaknaan akan tema yang disodorkan. Peserta "digiring" masuk lebih dalam untuk melihat pertumbuhan iman dan pengalaman hidup selama ini di dunia digital.
Mengambil contoh hidup St. Carlo Acutis yang seluruh kehidupannya dipakai untuk pewartaan lewat media sosial, sang influencer Tuhan. Yang mengatakan bahwa Ekaristi adalah jalan tol menuju surga.
Peserta diberi kesempatan untuk mendalami kisah hidup St. Carlo Acutis juga yang dikaitkan dengan situasi hidup OMK di masa kini, masa penuh tantangan terutama tantang menggunakan media sosial.
Ada yang mengatakan bahwa situasi dan keadaan yang menjadi tantangan saat ini adalah: masih merasa malu untuk membagikan video, foto dan tulisan-tulisan berisi renungan. Selain itu, ada yang menyampaikan bahwa dirinya masih fokus pada diri sendiri ketika berhadapan dengan handphone tanpa terselip sedikit untuk mewartakan Tuhan lewat media sosialnya.
Mereka sangat aktif untuk menyampaikan pengalaman juga pendapat tentang kehidupan iman OMK "zaman now".
Masuk pada saat mendengar Firman Tuhan, peserta lebih dalam lagi diantar masuk untuk melihat janji Yesus dan apa yang harus dibuat oleh orang muda.
Pengalaman-pengalaman hidup mereka disharingkan kemudian dipadukan dengan firman yang didengar.
Ada pengalaman-pengalaman yang menyadarkan bahwa Tuhan selalu ada untuk menyertai kehidupan mereka.
Pengalaman di tempat baru yang di-bullly tetapi dalam doa dan keyakinan kuat akan kasih Tuhan, bullying yang menjadi tantangan berhasil dihadapi dan dilewati dengan baik.
Enu Sensa mengisahkan pengalaman ketika mengalami bullying di sekolah. "Ketika pertama kali saya masuk di salah satu sekolah swasta terkenal syaa merasa masih sangat asing. Ternyata teman-teman di sana suka mem-bully anak-anak dari kampung. Saya dilihat dengan sinis, tidak dijadikan teman. Akan tetapi saya selalu ingat pesan mama agar tidak boleh berhenti berdoa. Saya pun selalu berdoa, berdoa pertama-tama agar teman-teman yang mem-bully saya disadarkan . Puji Tuhan, dengan kekuatan doa, tidak lama kemudian keadaan mulai berdubah, dari yang suka mem-bully kemudian mereka sendiri datang dan mau berteman dengan saya hingga selesai pendidikan saya di sekolah. Hal itu saya alami sebagai kasih Tuhan yang tak pernah berhenti untuk saya," ungkapnya.
Kaum muda tanggung jawab dalam memanfaatkan media sosial. Diutus mewartakan oleh Yesus berarti: Kita dipanggil untuk belajar menjadikan medsos sebagai medan pewartaan, bukan tempat ujaran kebencian, hoaks dan cyberbullying. Kita dituntut untuk bijak membagikan informasi dan menghormati martabat manusia. Mengikuti perintah Yesus berarti beretika dalam dunia digital.
Orang muda dituntut untuk menjadi pribadi yang otentik, tidak terjebak pada kepalsuan digital. Dalam bermedia sosial kita harus membangun relasi dengan Allah yang mencintai diri kita dan menerima kita apa adanya. Dia ingin kita bahagia, dalam persekutuann kasih-Nya: kasih Bapa, Putera dan Roh Kudus.
Allah hadir dalam dunia Digital. Kita mungkin pernah melihat gambar Yesus yang bertuliskan “I’m always online”. Yesus mengatakan bahwa “aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir Zaman”. Allah hadir saat orang muda menghadapi tekanan, kritik atau kesepian pengaruh media sosial. Berani berhenti dan ambil jarak dengan dunia digital pada saat tertentu, dan berani bersaksi lewat media sosial pada saat lain.
Semua peserta sangat aktif dalam berbicara, menyampaikan dan berbagi kisah inspiratif yang dialami karena kebaikan Tuhan.
Terakhir, Mereka berkomitmen agar menggunakan media sosial tifak hanya untuk mengupload diri dan mensearch hal lain tetapi akan mulai bangkit dan bergerak untuk karya pewartaan lewat konten-konten berisi firman Tuhan dan menginpspirasi.***