Menapaki Jalan Salib di Tanah Flores: Ketika Karitas Hadir di Tengah Luka Gempa

Perjalanan Karitas ke Paroki St. Eduardus Watunggong menjadi sebuah kesaksian sederhana namun kuat: kasih tidak mengenal jalan yang terlalu jauh ketika ada manusia yang harus dijumpai. Dan mungkin, di sanalah makna terdalam Caritas menemukan wajahnya: datang, hadir, mendengarkan, melayani, dan berjalan bersama mereka yang menderita.

Pelayanan tim relawan Karitas Nasional di Stasi St. Yoseph Ngkolong

Watunggong,  09 September 2026- Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang daratan Flores pada 15 Agustus meninggalkan luka yang tidak sederhana. Bukan hanya kerusakan bangunan dan fasilitas warga, tetapi juga menghadirkan kecemasan, kekhawatiran, dan ketakutan yang terus membayangi kehidupan masyarakat.

Belum lagi sekitar 13 ribu kali gempa susulan yang terjadi setelah gempa utama. Bumi yang seakan belum berhenti bergerak membuat sebagian warga hidup dalam ketidakpastian. Rasa aman yang selama ini menjadi bagian dari keseharian mendadak berubah menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan kembali.

Di tengah situasi itu, kepedulian pun bergerak.

Banyak orang datang membawa bantuan. Ada yang membawa sembako, obat-obatan, tenaga, perhatian, dan yang tidak kalah penting: kehadiran. Sebab bagi mereka yang sedang menderita, kehadiran seorang saudara yang mau berjalan bersama sering kali jauh lebih berarti daripada sekadar bantuan material.

Di antara mereka yang datang adalah Karitas Nasional (Karina). Karina mengutus para relawannya untuk turun ke berbagai pelosok Flores. Mereka tidak datang sekadar membawa bantuan. Mereka datang membawa cinta—cinta kepada sesama yang sedang mengalami penderitaan.


Menembus Jalan yang Sulit

Salah satu wilayah yang menjadi tujuan pelayanan adalah Paroki St. Eduardus Watunggong, Keuskupan Ruteng.

Selama dua hari, tim relawan Karitas berada di wilayah paroki tersebut. Pelayanan dilakukan di dua tempat, yakni Stasi St. Yoseph Ngkolong, Desa Ranamese, dan Stasi Kenda, Desa Compang Lawi, Kecamatan Congkar, Manggarai Timur.

Pada Selasa dan Rabu, 8–9 September, para relawan melaksanakan pelayanan pengobatan gratis dan psikososial bagi masyarakat terdampak.

Tim relawan bekerjasama dengan Puskesmas Watunggong dan difasilitasi oleh Pastor Paroki RD Martinus Gunardi Kendo, Diakon Hendra dan Tim Pastoral lainnya.

Untuk sampai ke tempat pelayanan, perjalanan bukanlah perkara mudah. Jalan berlubang, bebatuan, debu, serta topografi wilayah yang cukup sulit menjadi bagian dari perjalanan mereka. Kendaraan harus melewati medan yang menantang untuk mencapai masyarakat yang berada jauh dari pusat pelayanan.

Namun, medan yang berat tidak menyurutkan langkah. Justru di sanalah semangat pelayanan menemukan maknanya.

Tidak tampak wajah-wajah yang mengeluh karena perjalanan panjang. Tidak terlihat kelelahan yang mengalahkan semangat. Yang tampak adalah senyum, sukacita, dan kesediaan untuk hadir bersama mereka yang membutuhkan.

Karena bagi Karitas, pelayanan bukan sekadar tentang sampai di sebuah tempat. Pelayanan adalah tentang menjumpai manusia.


Bukan Hanya untuk Umat Katolik

Ada sesuatu yang indah dari pelayanan tersebut. Mereka yang datang bukan hanya umat Katolik. Saudara-saudara Muslim pun datang dan menerima pelayanan yang sama.

Tidak ada sekat agama. Tidak ada pembedaan dalam memberikan perhatian. Semua dilayani sebagai saudara, sebagai manusia yang sama-sama sedang mengalami penderitaan akibat bencana. Di situlah wajah Caritas menjadi nyata.

Cinta kasih tidak pernah bertanya terlebih dahulu tentang agama, suku, latar belakang, atau identitas seseorang. Cinta kasih hanya melihat manusia yang membutuhkan pertolongan.

Semangat ini sejalan dengan panggilan Gereja untuk menghadirkan kasih Allah di tengah dunia. Dalam diri orang yang menderita, Gereja dipanggil untuk melihat wajah Kristus sendiri.

Maka ketika seorang relawan membalut luka, memberikan obat, mendengarkan keluhan, menemani seseorang yang cemas, atau sekadar memberikan senyum, sesungguhnya di sana sedang terjadi sebuah bentuk pewartaan iman.

Bukan melalui kata-kata panjang. Melainkan melalui tindakan kasih.

Caritas dan Jalan Salib Kemanusiaan

Ada sebuah gambaran yang terasa kuat dalam perjalanan para relawan Karitas ke pelosok Flores: jalan salib.

Jalan yang berlubang, berbatu, berdebu dan penuh tantangan itu seakan menjadi gambaran kecil dari jalan salib yang harus ditempuh demi menghadirkan kasih.

Kristus sendiri tidak memilih jalan yang mudah. Ia berjalan menuju Golgota, melewati jalan penderitaan demi keselamatan manusia.

Dalam semangat yang jauh lebih sederhana, para relawan Karitas juga memilih untuk berjalan menuju tempat-tempat yang tidak mudah dijangkau. Mereka meninggalkan kenyamanan dan menempuh medan berat untuk berjumpa dengan saudara-saudari yang sedang menderita.

Mereka mengambil “jalan salib” kemanusiaan. Bukan karena mereka ingin menjadi pahlawan. Bukan pula untuk mencari pujian. Tetapi karena ada saudara yang membutuhkan kehadiran. Dan cinta selalu menemukan jalannya.


Menjadi Gereja yang Hadir

Bencana sering kali memperlihatkan kepada kita bahwa manusia sesungguhnya tidak dapat hidup sendirian.

Ketika gempa mengguncang, batas-batas yang selama ini memisahkan manusia seakan runtuh. Yang tersisa adalah kesadaran bahwa kita adalah satu keluarga kemanusiaan.

Karitas hadir dalam kesadaran itu. Gereja tidak hanya hadir melalui gedung, altar, atau perayaan liturgi. Gereja juga hadir ketika para anggotanya turun ke jalan, masuk ke pelosok, mendengarkan jeritan orang yang menderita, dan memberikan pertolongan dengan tulus.

Gereja menjadi nyata ketika kasih tidak berhenti di dalam doa, tetapi bergerak menjadi tindakan.

Para relawan Karitas menunjukkan bahwa iman yang hidup adalah iman yang berani keluar dari zona nyaman.

Mereka pergi ke tempat yang mungkin bagi sebagian orang sulit untuk didatangi. Mereka melewati jalan yang berat, menembus debu dan bebatuan, lalu duduk bersama masyarakat yang membutuhkan pertolongan.

Di sana, Caritas menjadi wajah Gereja yang dekat. Gereja yang mendengarkan. Gereja yang merangkul. Gereja yang berjalan bersama.

Dari Flores, Sebuah Kesaksian tentang Cinta

Gempa mungkin mengguncang tanah Flores. Tetapi di tengah guncangan itu, cinta kasih justru menemukan kekuatannya.

Ada tangan-tangan yang terulur. Ada kaki-kaki yang rela berjalan jauh. Ada hati yang bersedia mendengarkan. Ada relawan yang memilih untuk hadir ketika orang lain sedang berada dalam ketakutan. Semua itu menjadi tanda bahwa penderitaan tidak harus dihadapi sendirian.


Perjalanan Karitas ke Paroki St. Eduardus Watunggong menjadi sebuah kesaksian sederhana namun kuat: kasih tidak mengenal jalan yang terlalu jauh ketika ada manusia yang harus dijumpai.

Jalan berlubang tidak menghentikan langkah. Debu tidak memadamkan semangat. Medan berat tidak mengalahkan cinta. Sebab ketika kasih menjadi alasan untuk berjalan, setiap jalan—betapapun sulitnya—dapat berubah menjadi jalan menuju perjumpaan.

Dan mungkin, di sanalah makna terdalam Caritas menemukan wajahnya: datang, hadir, mendengarkan, melayani, dan berjalan bersama mereka yang menderita.

Seperti Kristus yang memilih jalan salib karena kasih, para relawan Karitas pun menapaki jalan mereka sendiri—jalan yang penuh debu, batu, dan tantangan—demi satu tujuan sederhana: agar saudara yang terluka tahu bahwa mereka tidak berjalan sendirian.

Flores sedang berduka. Namun dari tanah yang diguncang gempa itu, tumbuh sebuah kesaksian bahwa kasih masih hidup.

Dan selama masih ada orang yang mau datang dan berjalan bersama mereka yang menderita, harapan tidak akan pernah benar-benar runtuh.***

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
LINK TERKAIT