
Umat Katolik Paroki St Eduardus Watunggong mengikuti misa inkulturasi Minggu Ketiga dengan penuh sukacita dan mengenakan busana khas Manggarai sebagai identitas yang menyatu dalam liturgi sehingga membuat perayaan menjadi lebih meriah, indah namun khusuk dan khidmat karena seluruh perayaan dari doa, bacaan sabda, homili hingga nyanyian semua dalam bahasa Manggarai.
Perayaan Ekaristi inkulturasi di Paroki St Eduardus Watunggong
Gereja Katolik kaya akan nuansa dan di dalam liturgi. Salah satu yang masih eksis dan terus dirayakan adalah perayaan Ekaristi atau misa inkulturasi.
Inkulturasi dalam Gereja Katolik adalah proses pengintegrasian Injil ke dalam kebudayaan setempat, di mana nilai-nilai iman Kristen mengakar dan mengungkapkan diri melalui unsur-unsur budaya lokal (seperti bahasa, seni, adat). Proses ini bertujuan membuat iman lebih mudah dipahami dan dihayati, sekaligus memperkaya Gereja universal tanpa menghilangkan jati diri budaya tersebut.
Tujuan: Memudahkan umat berpartisipasi dalam liturgi, mendekatkan diri pada Kristus, dan membuat iman menjiwai kebudayaan setempat.
Inkulturasi harus tetap memperhatikan keselarasan dengan liturgi Gereja agar tidak membingungkan umat, dengan fokus pada pengayaan budaya oleh Injil dan sebaliknya.
Pada hari Minggu, 15 Februari 2026, di Paroki St Eduardus misa dirayakan dalam nuansa inkulturasi yang memadukan liturgi Gereja dengan budaya Manggarai, membuat perayaan semakin indah.
Umat yang hadir berbalutkan busana daerah Manggarai dan seluruh susunan serta nyanyian diambil dari lagu-lagu berbahasa Manggarai yang bersumber dari buku Dere Serani (buku lagu liturgi berbahasa Manggarai yang telah diakui Vatican).
RD. Agustinus Fransiskus Naring Kiven (RD Kiven) yang memimpin perayaan menghantar umat masuk menyelami kasih Allah dalam Ekaristi dalam ajakan-ajakan berbahasa Manggarai yang sudah disesuaikan dengan Tata Perayaan Ekaristi (TPE) terbaru.
Seluruh perayaan berbahasa Manggarai dan tampak umat sangat menikmati dan khusuk mengikuti perayaan hingga selesai. Misa inkulturasi menumbuhkan minat umat akan liturgi Gereja Katolik dan budaya setempat.
Komunitas Basis Gerejawi (KBG) St. Yoseph menghantar umat masuk lebih dalam penuh sukacita dalam perayaan dengan nyanyian-nyanyian liturgi berbahasa Manggarai, menambah kekhusukan dan keindahan misa.
Khusus panduan misa inkulturasi diperbanyak oleh Orang Muda Katolik (OMK) St Eduardus yang membantu dan memudahkan umat untuk mengikuti misa dengan baik karena di dalamnya sudah tertera jawaban-jawaban umat dalam bahasa Manggarai.
Bagi umat yang berminat dan ingin memiliki panduan misa inkulturasi silahkan menghubungi kami atau langsung pesan di teman-teman OMK setiap KBG.
Mari terus merawat inkultirasi (perpaduan liturgi budaya) dan hidup di dalamnya sebagai bagian integral dalam iman. ***