Begini Kata Imam Masjid Nurul Iman Nelo-Ntaram pada Moment Kunjungan Uskup Ruteng

“Kisah hari ini adalah bukti bahwa di sini, di tanah Nelo-Ntaram ini, kerukunan bukan sekadar kata-kata di atas kertas, melainkan sesuatu yang kami jalani, kami rawat dan kami hidupi setiap hari. Terima kasih Bapak Uskup. Langkah Bapak mengajarkan kami semua bahwa cinta kasih adalah bahasa yang dimengerti oleh semua orang, tanpa memandang agama apa pun yang dianutnya,” tutup Bapak Yusuf Daik disambut tepuk tangan meriah dan haru dari seluruh warga yang hadir.

Foto Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat bersama Imam Masjid Nurul Iman, Bpk. Yusuf Daik

Hari Jumat, 15 Mei 2026 merupakan tanggal penuh makna dan bersejarah bagi umat Islam Masjid Nurul Iman, Nelo-Ntaram yang berada di wilayah Kecamatan Congkar, Manggarai Timur. Hari ini, seluruh warga kampung Nelo bersama, bersatu dalam kekeluargaan menerima kedatangan pemimpin umat Katolik Keuskupan Ruteng. 

Suasana haru dan sukacita mendalam menyelimuti lingkungan Masjid Nurul Iman, Nelo-Ntaram, wilayah Paroki Santo Eduardus Watunggong, saat Mgr. Siprianus Hormat, Uskup Ruteng, berkunjung untuk bersilaturahmi menjelang perayaan Idul Adha. Kedatangan pemimpin umat Katolik ini disambut hangat oleh pengurus masjid dan seluruh warga setempat, yang menganggap momen ini sebagai peristiwa istimewa yang memperkuat ikatan persaudaraan di tengah keberagaman keyakinan.

Menyambut kedatangan ini, Imam Masjid Nurul Iman, Bapak Yusuf Daik, mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam sekaligus rasa bangga yang luar biasa karena dikunjungi oleh Uskup Ruteng. Bagi beliau dan seluruh jamaah, kunjungan ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan sebuah peristiwa yang sangat berharga dan menyentuh hati.

“Kami menyambut kedatangan Bapak Uskup dengan penuh haru dan sukacita. Kami menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya, dan kami merasa sangat bangga atas kunjungan ini. Bagi kami, ini adalah bentuk aplikasi cinta yang luar biasa, sebuah kunjungan persaudaraan yang mampu melewati sekat-sekat perbedaan keyakinan yang ada,” ujar Bapak Yusuf Daik dengan nada suara yang penuh penghayatan.


Lebih jauh, beliau menjelaskan makna mendalam di balik langkah yang diambil oleh Uskup Ruteng ini. Menurutnya, kehadiran tersebut adalah bukti nyata dari upaya merawat kerukunan dan menjaga eratnya kekeluargaan yang telah tumbuh subur di tengah masyarakat Manggarai. Beliau bahkan menafsirkan simbol iman umat Katolik sebagai landasan kuat dari persaudaraan universal ini.

“Salib yang menjadi lambang iman umat Katolik itu sejatinya menjembatani yang insani dan yang ilahi. Tiang lurusnya menghubungkan manusia dengan Tuhan, menjadi simbol pertanggungjawaban kita menjalani kehidupan selama di dunia ini. Sedangkan palang yang melintang ke kiri dan ke kanan, itu menggambarkan hubungan manusia dengan sesamanya dan hubungan manusia dengan seluruh ciptaan Tuhan,” papar Bapak Yusuf Daik.

Pemahaman ini, lanjutnya, menjadikan kunjungan tersebut memiliki makna yang sangat dalam. “Kunjungan ini merupakan salah satu wujud pertanggungjawaban atas iman, sekaligus pelaksanaan tugas kemanusiaan yang sesungguhnya. Inilah bukti bahwa iman yang benar selalu berbuah kasih kepada sesama,” tambahnya.

Di akhir pernyataannya, Imam Masjid Nurul Iman menegaskan keistimewaan momen ini dengan membedakannya dari kunjungan-kunjungan pada umumnya.


“Kalau kita berbicara soal kunjungan, tentu kita pernah menerima kedatangan pejabat-pejabat tinggi, seperti Bupati, Gubernur, bahkan Presiden sekalipun. Kunjungan seperti itu adalah hal yang biasa, wajar dan memang menjadi bagian dari tugas dinas. Seringkali di balik kunjungan itu ada kepentingan, ada kebijakan atau sesuatu yang diharapkan oleh kedua belah pihak,” ujar Bapak Yusuf Daik melanjutkan penjelasannya dengan penuh keyakinan.

Nada bicaranya kemudian berubah menjadi lebih lembut namun tegas saat membedakan makna kunjungan yang dilakukan oleh Uskup Ruteng ini. 

“Tetapi, apa yang dilakukan oleh Bapak Uskup Mgr. Siprianus Hormat hari ini sungguh berbeda, jauh lebih istimewa dan menyentuh hati. Kunjungan ini tidak didasari oleh jabatan, tidak ada urusan dinas dan sama sekali tidak mengharapkan balasan apa pun. Kunjungan ini murni datang dari hati yang tulus, hati yang ingin merangkul nilai-nilai kemanusiaan yang luhur. Inilah yang membuat kami merasa sangat dihargai, sangat diakui dan rasa bangga kami begitu membuncah di dada.”

Bagi seluruh jamaah Masjid Nurul Iman, kehadiran Uskup Ruteng beserta rombongannya bukan sekadar menyapa atau berfoto bersama. Kehadiran itu adalah pesan nyata bahwa di tengah perbedaan cara beribadah dan keyakinan, kita semua memiliki akar yang sama sebagai manusia, ciptaan Tuhan Yang Satu. Perbedaan itu, menurut beliau, justru menjadi kekayaan yang indah jika dikelola dengan kasih dan saling menghormati, persis seperti yang diajarkan oleh masing-masing agama.

“Kami melihat sosok Bapak Uskup datang bukan sebagai pemimpin umat Katolik semata, melainkan sebagai saudara kami, sebagai bagian dari warga masyarakat ini yang peduli akan kebersamaan. 


Di akhir sambutannya, Imam Masjid ini kembali menegaskan pesan kerukunan yang selama ini hidup di wilayah ini, di Congkar. Ia berharap momen indah ini tidak hanya menjadi kenangan manis yang berlalu begitu saja tetapi menjadi titik tolak untuk mempererat lagi ikatan kekeluargaan yang sudah terjalin kuat.

“Kisah hari ini adalah bukti bahwa di sini, di tanah Nelo-Ntaram ini, kerukunan bukan sekadar kata-kata di atas kertas, melainkan sesuatu yang kami jalani, kami rawat dan kami hidupi setiap hari. Terima kasih Bapak Uskup. Langkah Bapak mengajarkan kami semua bahwa cinta kasih adalah bahasa yang dimengerti oleh semua orang, tanpa memandang agama apa pun yang dianutnya,” tutup Bapak Yusuf Daik disambut tepuk tangan meriah dan haru dari seluruh warga yang hadir.

Sementara itu, dalam jawaban sambutannya, Mgr. Siprianus Hormat menyampaikan rasa bahagianya dapat berkunjung ke tempat tersebut. Ia mengaku kunjungan ini adalah panggilan hati untuk menegaskan bahwa persaudaraan adalah nilai yang utama.

Pertemuan ini merupakan sebuah kisah persaudaraan yang indah, membuktikan bahwa jembatan kasih akan selalu ada, selama hati kita mau saling merangkul, melampaui segala sekat perbedaan yang ada.***

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
LINK TERKAIT