
Melalui aksi ini, umat Paroki St. Eduardus Watunggong memperlihatkan bahwa Gereja bukan semata-mata bangunan fisik, melainkan persekutuan orang-orang beriman yang tetap teguh, saling menopang, dan terus berjalan bersama, bahkan ketika menghadapi kesulitan. Semangat ini sejalan dengan pesan Santo Yakobus: “Iman tanpa perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:26). Iman tidak berhenti pada kata-kata dan doa, tetapi mendorong setiap orang untuk melakukan sesuatu yang baik bagi sesama dan bagi kehidupan bers
Kunjungan ini pun meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh warga Nelo-Ntaram. Sebuah kisah indah tentang persaudaraan yang membuktikan bahwa kerukunan hidup beragama di Manggarai bukan sekadar wacana, melainkan sesuatu yang dihayati dan dijalankan dalam keseharian, demi terciptanya kedamaian dan kesejahteraan bersama.
“Kisah hari ini adalah bukti bahwa di sini, di tanah Nelo-Ntaram ini, kerukunan bukan sekadar kata-kata di atas kertas, melainkan sesuatu yang kami jalani, kami rawat dan kami hidupi setiap hari. Terima kasih Bapak Uskup. Langkah Bapak mengajarkan kami semua bahwa cinta kasih adalah bahasa yang dimengerti oleh semua orang, tanpa memandang agama apa pun yang dianutnya,” tutup Bapak Yusuf Daik disambut tepuk tangan meriah dan haru dari seluruh warga yang hadir.