
Safeguarding atau perlindungan anak, lanjut Romo Beben, adalah tanggung jawab bersama — terutama orang tua — agar anak dapat tumbuh tanpa rasa takut, terancam, atau diperlakukan salah. Pengasuhan yang disertai kasih yang tulus akan menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan iman dan kepribadian anak, terlebih saat anak-anak ini akan segera menerima Sakramen Ekaristi, tanda kasih Tuhan yang tak terhingga.
Keterlibatan para orang tua dalam pembinaan ini memiliki makna yang dalam. Di samping memenuhi ketentuan dan persyaratan yang berlaku di Paroki St. Eduardus Watunggong, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk menanamkan nilai iman dalam perbuatan nyata: mengasihi Tuhan dan sesama lewat karya bersama.
Materi disajikan dengan cara yang menarik, salah satunya melalui sesi bertema “Satu Tubuh Banyak Anggota” yang diperagakan lewat permainan seru sehingga anak-anak lebih mudah menangkap makna persatuan dalam Kristus.
Watunggong memberinya ruang dan cinta yang tulus serta membentuknya menjadi seorang Imam yang siap melayani. Watunggong yang meski topografi serta jalannya buruk namun senyum dan penerimaan umat menjadi kekayaan yang memotivasi dalam perjalanan imamat.
Orang Muda Katolik (OMK) Paroki St. Eduardus Watunggong menunjukkan kepedulian nyata terhadap sesama lewat aksi sosial. Mereka berhasil memfasilitasi pengadaan dan pemasangan meteran listrik bagi keluarga Bapak Yosef Ornei, warga Watunggong, Desa Satar Nawang, Kecamatan Congkar, Kabupaten Manggarai Timur.
Dalam prosesi tersebut, Diakon Hendra didampingi dan diantar oleh keluarga serta rombongan umat dari Stasi Papang, Paroki St. Arnoldus Janssen Ponggeok. Sebagai wujud penyatuan iman dan budaya, ia dikalungi selendang leros, dikenakan topi khas Congkar, serta sarung Punca Titi yang menjadi ciri budaya masyarakat setempat.