
Lebih dari sekadar kegiatan edukasi, perjumpaan ini merupakan wujud nyata kepedulian dan solidaritas kemanusiaan. Ada pesan sederhana tetapi mendalam yang ingin ditanamkan: bahwa anak-anak tidak berjalan sendirian dalam menghadapi pengalaman sulit akibat bencana.
Kegiatan dan sukacita SEKAMI Watunggong bersama tim relawan Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya
Kepedulian terhadap para penyintas gempa bumi di Watunggong terus diwujudkan melalui berbagai bentuk pelayanan dan pendampingan. Kali ini, perhatian khusus diberikan kepada anak-anak melalui kegiatan psikososial yang melibatkan Tim Relawan dari mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UNESA) bersama kelompok Sekolah Minggu Katolik (SEKAMI) Paroki St. Eduardus Watunggong.
Kegiatan ini menjadi ruang belajar, berbagi, sekaligus pemulihan bagi anak-anak yang turut merasakan dampak dari bencana gempa bumi yang melanda wilayah Flores. Kegiatan berlangsung pada hari Sabtu dan Minggu (31/10 dan 01/11) 2026.
Dalam kegiatan tersebut, para mahasiswa UNESA membagikan berbagai ilmu dan pengetahuan kepada anak-anak tentang kebencanaan. Mereka diajak untuk mengenal bencana, memahami berbagai situasi yang mungkin terjadi, serta belajar bagaimana bersikap dan menghadapi keadaan ketika bencana datang. Melalui penyampaian materi yang disesuaikan dengan dunia anak-anak, para relawan berusaha menanamkan pemahaman bahwa pengetahuan dan kesiapsiagaan merupakan bagian penting dalam menghadapi bencana.
Tidak hanya berfokus pada pengetahuan kebencanaan, kegiatan ini juga menghadirkan sesi khusus bertajuk "Mengolah Rasa". Dalam sesi ini, anak-anak diajak mengenali berbagai perasaan yang hadir dalam diri mereka, seperti rasa sakit, sedih, takut, gembira, dan berbagai emosi lainnya.
Anak-anak diberi kesempatan untuk mengenali, memahami, serta mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Mereka belajar bahwa setiap perasaan merupakan bagian dari pengalaman manusia yang perlu diterima dan diungkapkan dengan cara yang baik.
Pendampingan seperti ini menjadi penting, sebab bencana tidak hanya meninggalkan dampak pada bangunan dan lingkungan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi perasaan, kenyamanan, dan rasa aman anak-anak. Karena itu, pemulihan pascabencana perlu menyentuh bukan hanya aspek fisik, tetapi juga kehidupan emosional dan sosial mereka.
Kehadiran para mahasiswa relawan UNESA bersama anak-anak SEKAMI menjadi sebuah pengalaman berharga. Di tengah situasi pascabencana, anak-anak kembali mendapatkan ruang untuk belajar, berinteraksi, berbagi cerita, dan menemukan kegembiraan bersama.
Lebih dari sekadar kegiatan edukasi, perjumpaan ini merupakan wujud nyata kepedulian dan solidaritas kemanusiaan. Ada pesan sederhana tetapi mendalam yang ingin ditanamkan: bahwa anak-anak tidak berjalan sendirian dalam menghadapi pengalaman sulit akibat bencana.
Melalui kegiatan psikososial ini, diharapkan anak-anak SEKAMI Paroki St. Eduardus Watunggong semakin memiliki pengetahuan tentang kebencanaan, mampu mengenali dan mengelola perasaannya, serta tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan penuh harapan.
Sebab, pemulihan pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali rumah dan gedung yang rusak, tetapi juga tentang memulihkan hati, menguatkan jiwa, dan mengembalikan senyum anak-anak.