
Marilah kita hidup dengan dua keyakinan ini: kita berada di tangan Allah yang membentuk, dan kita sedang berjalan menuju pantai Kerajaan Allah. Selama perjalanan itu masih berlangsung, jangan takut dibentuk, jangan lelah bertobat, dan jangan berhenti percaya bahwa rahmat Tuhan selalu lebih besar daripada keretakan kita.
Kamis Pekan Biasa
XVII
Bacaan:
Yeremia 18:1-6
Mazmur 146:2abc.2d-4.5-6
Matius 13:47-53
Hari ini Sabda Tuhan menghadirkan dua gambaran yang
sederhana, tetapi menyentuh kedalaman hidup, yakni tanah liat di tangan tukang periuk dan ikan di dalam jala. Keduanya berbicara tentang Allah. Keduanya
juga berbicara tentang kita.
Yeremia diminta pergi ke rumah seorang tukang
periuk. Di sana ia melihat sebuah bejana yang rusak ketika sedang dibentuk.
Yang menarik, tukang periuk itu tidak membuang tanah liat tersebut. Ia
membentuknya kembali menjadi bejana yang lain, sesuai dengan kehendaknya. Lalu
Tuhan berkata, "Seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah
kamu di tangan-Ku."
Inilah kabar baik dari Yeremia. Allah tidak mudah
menyerah dan membiarkan kehidupan kita yang retak, entah karena masa lalu yang
kelam, dosa yang terus menghampiri, dan kelakuan yang tak baik di mata sesama.
Dalam hal ini, Allah bukan hanya Hakim yang melihat kegagalan, tetapi juga
Pencipta yang melihat kemungkinan agar kita diubah dan dibentuk ulang.
Namun Injil hari ini mengingatkan kita bahwa
pembentukan itu tidak berlangsung tanpa tujuan.Yesus berbicara tentang sebuah
jala yang ditebarkan ke laut. Jala itu menangkap segala jenis ikan. Baru
setelah sampai di pantai, dilakukan pemisahan. Dalam perumpamaan ini, pantai
melambangkan akhir zaman, ketika Allah sendiri menyatakan kebenaran dan
keadilan-Nya. Penghakiman bukan dilakukan oleh manusia, melainkan oleh Allah
yang mengenal isi hati.
Maka, jika Yeremia berbicara tentang tangan Allah, Matius berbicara tentang
waktu Allah. Sekarang adalah
waktu dibentuk; kelak akan tiba waktu menuai. Sekarang adalah masa rahmat;
kelak akan datang kepenuhan Kerajaan. Karena itu, pertanyaan bagi kita
bukanlah, "Siapa yang akan dipisahkan?" Pertanyaan yang lebih
penting adalah, "Apakah aku masih membiarkan diriku dibentuk oleh
Tuhan?"
Mungkin ada bagian hidup kita yang mengeras: luka
yang tidak mau diampuni, kesombongan yang tidak mau dikoreksi, atau kebiasaan
dosa yang sudah dianggap biasa. Tanah liat yang mengeras sulit dibentuk. Namun
selama kita bersedia kembali ke tangan Sang Tukang Periuk, rahmat masih
bekerja.
Marilah kita hidup dengan dua keyakinan ini: kita
berada di tangan Allah yang membentuk,
dan kita sedang berjalan menuju pantai
Kerajaan Allah. Selama perjalanan itu masih berlangsung, jangan takut
dibentuk, jangan lelah bertobat, dan jangan berhenti percaya bahwa rahmat Tuhan
selalu lebih besar daripada keretakan kita.