
Kiranya kita memilih setiap hari untuk menjadi gandum yang setia: tetap bertumbuh meski dikelilingi lalang, tetap mengasihi meski kebencian mengelilingi, tetap membawa damai di tengah pertikaian, dan tetap berharap ketika dunia terasa gelap.
Selasa Pekan Biasa XVII
Bacaan:
Yeremia 14:17-22
Mazmur 79:8.9.11.13
Matius 13:36-43
Ladang yang diperumpamakan Yesus hari ini adalah
keluarga kita. Ladang Tuhan adalah tempat kerja kita. Ladang Tuhan adalah
Gereja dan masyarakat kita. Di sana selalu ada campuran antara air mata dan
tawa, antara ketulusan dan kepura-puraan, antara kesetiaan dan pengkhianatan.
Namun Tuhan tidak meninggalkan ladang-Nya. Ia berjalan di antara setiap barisan
tanaman, memperhatikan pertumbuhan setiap jiwa, dan tidak pernah kehilangan
satu pun yang sungguh-sungguh menjadi milik-Nya.
Akan tiba saatnya musim panen. Waktu tidak berjalan
tanpa tujuan. Sejarah bergerak menuju hari ketika Sang Hakim yang adil datang.
Pada hari itu tidak ada lagi topeng yang dapat dikenakan. Tidak ada lagi
kepalsuan yang dapat disembunyikan. Segala sesuatu akan tampak sebagaimana
adanya. Dan mereka yang hidup dalam kebenaran akan bercahaya seperti matahari
di dalam Kerajaan Bapa.
Alangkah indah janji itu. Bukan sekadar selamat dari
hukuman, tetapi bercahaya. Cahaya itu bukan berasal dari kehebatan manusia,
melainkan dari kedekatan dengan Kristus, Sang Terang Dunia. Semakin kita
tinggal di dalam Dia, semakin hidup kita memantulkan terang-Nya kepada sesama.
Karena itu, jangan putus asa ketika melihat dunia yang
masih dipenuhi lalang. Jangan kehilangan harapan ketika kejahatan tampak tumbuh
lebih cepat daripada kebaikan. Ingatlah bahwa musim belum berakhir. Tuhan masih
bekerja dalam diam. Akar-akar iman masih sedang menguat. Bulir-bulir harapan
masih sedang menguning. Dan ketika Sang Tuan Ladang datang, tidak satu pun
gandum akan terlupakan.
Kiranya kita memilih setiap hari untuk menjadi gandum
yang setia: tetap bertumbuh meski dikelilingi lalang, tetap mengasihi meski
kebencian mengelilingi, tetap membawa damai di tengah pertikaian, dan tetap
berharap ketika dunia terasa gelap.