Surat Cinta Orangtua untuk Anak-Anak Peserta Komuni I

Saat kedua anak, seorang perempuan dan seorang laki-laki, membacakan surat, mata para orangtua berkaca-kaca. Kata-kata yang terbaca merupakan isi hati orangtua yang jujur dan tulus. Isi surat si anak perempuan memuat ungkapan terima kasih karena si anak sudah siap menerima Tubuh Kristus. Selain itu, surat itu mengungkapkan harapan orangtua agar si anak bertumbuh menjadi anak Kristus yang baik pun menjadi peserta didik yang berakhlak. Menariknya, surat itu juga berisikan permohonan maaf dari oran


WATUNGGONG, 12 Agustus 2026 - Ada moment menarik saat penerimaan Komuni I untuk kedua puluh lima orang anak SDK Wea-Wattunggong pada Rabu, 12 Agustus 2026 di Gereja Paroki Watunggong. Sebelum Pastor Paroki, Rm. Martin Kendo, berkhotbah, Ia meminta dua orang anak maju ke altar. Keduanya dipilih secara acak untuk membacakan surat cinta orang tua mereka. Surat itu ditulis sehari sebelumnya. Surat itu ditulis sebagai bagian dari pembinaan yang telah dilakukan oleh RD. Beben Gaguk dan Kaka Reta. Ia merupakan ungkapan rasa, curahan hati, harapan yang terbentang, serta permohonan maaf yang apik.

Saat kedua anak, seorang perempuan dan seorang laki-laki, membacakan surat, mata para orangtua berkaca-kaca. Kata-kata yang terbaca merupakan isi hati orangtua yang jujur dan tulus. Isi surat si anak perempuan memuat ungkapan terima kasih karena si anak sudah siap menerima Tubuh Kristus. Selain itu, surat itu mengungkapkan harapan orangtua agar si anak bertumbuh menjadi anak Kristus yang baik pun menjadi peserta didik yang berakhlak. Menariknya, surat itu juga berisikan permohonan maaf dari orangtua karena belum bisa menjadi orangtua yang baik. Mereka memohon maaf karena belum memberikan teladan yang baik bagi anaknya. Namun, mereka bertekad untuk menjadi orangtua yang selalu hadir dan menemani si anak baik dalam suka maupun duka hidupnya hingga kelak.

Sementara itu, surat yang dibacakan si anak laki-laki berisikan harapan agar si anak bertumbuh menjadi anak yang baik yang mencintai Kristus yang akan dia terima dalam rupa Tubuh dan DarahNya. Surat itu juga  mengungkapkan ucapan terima kasih kepada anak karena bersedia dididik dan diajar selama ini, meskipun kedua orangtuanya banyak kekurangan. Mereka mengharapkan si anak tetap menerima mereka sebagai orangtuanya dengan penuh cinta, kejujuran, dan ketulusan.

Setelah keduanya membacakan isi surat, Gereja Paroki sesaat sunyi. Banyak orangtua peserta komuni dan umat yang hadir terlihat bermenung. Kemudian keduanya kembali ke tempat duduk. RD. Martin melanjutkan khotbahnya.

Dalam khotbahnya, RD. Martin menyampaikan pesan secara khusus untuk anak-anak peserta komuni dan orangtua mereka. Kepada anak-anak, RD. Martin berpesan bahwa Komuni I bukanlah akhir dari pelajaran agama serta pelajaran doa selama berbulan-bulan, melainkan awal dari persahabatan yang lebih dekat dengan Yesus. Anak-anak diharapkan tidak hanya datang kepada Yesus saat membutuhkan sesuatu, saat sakit, ketika hendak ujian, atau saat mempunyai masalah, tetapi harus selalu datang pada Yesus setiap hari.

Secara ekplisit, RD. Martin mengatakan, “Datanglah pada Yesus setiap hari. Kalau kalian gembira, katakan ‘Yesus, terima kasih’. Kalau kalian sedih, katakan ‘Yesus, temani aku’. Kalau kalian salah, kataka ‘Yesus, maafkan aku’. Kalau kalian salah, katakan ‘Yesus, janganlah tinggalkan aku.’”

RD. Martin juga berpesan agar setelah anak-anak menerima Tubuh dan Darah Kristus, mereka harus menjadi seperti Yesus. Artinya, mereka harus menjadi pribadi yang suka berbagi, tulus mengampuni, membantu teman, menghormati orangtua, berkata jujur, menghindari pertengkaran dengan teman, dan tidak menyakiti orang lain.

Kemudian, RD. Martin menyampaikan pesannya kepada para orangtua. Orangtua diharapkan menjadi pendidik para anak bukan dengan kata-kata belaka, melainkan yang lebih utama melalui keteladanan hidup. Para orang tua, lanjut RD. Martin, mesti menjadikan rumah sebagai tempat pertama bagi anak-anak untuk mengenal kasih Tuhan. Karena itu, RD. Martin mengatakan, “Jangan biarkan Komuni I hanya menjadi sebuah acara yang indah: pakaian bagus, foto keluarga, pesta, dan kenang-kenangan. Biarlah Komuni I menjadi awal dari kehidupan Ekaristi yang terus bertumbuh.”

Di penghujung khotbahnya, RD. Martin menegaskan bahwa seperti Yesus yang telah menyatakan diriNya sebagai Roti Hidup dan memberikan diriNya sebagai kurban silih, para anak dan orangtua dipanggil untuk memberikan diri bagi orang lain melalui cara-cara yang terlihat sederhana, tapi berarti bagi orang lain.

Sebelum berkat penutup, RD. Martin berpesan agar anak-anak tetap bergabung dalam SEKAMI untuk proses pendidikan iman yang berkelanjutan. Dalam SEKAMI, kata-kata, anak-anak belajar banyak untuk mengenal Yesus serta meneladaniNya dalam kehidupan harian.***

LINK TERKAIT