Sosialisasi Sinode 4 Keuskupan Ruteng, Berjalan Bersama dalam Pengharapan

Gereja yang sinodal memiliki ciri, yakni Gereja yang mendengarkan, Gereja yang pastisipatif, Gereja yang misioner, Gereja yang membedakan roh (discerning church) dan Gereja yang melampaui klerikalisme. Sosialisasi ini sebagai bahan awal untuk disampaikan kepada umat dalam bentuk katekese serta diskusi bersama dalam kehidupan umat di KBG, Stasi dan Paroki.

Suasana sosialisasi sinode IV dan pengisian angket sinode III Keuskupan Ruteng

Seluruh Kehidupan Gereja adalah bersifat sinodal, berjalan bersama dalam satu pengharapan di satu jalan yang sama.

Dalam tradisi Gereja, sinode berarti suatu proses mendengarkan,  berdialog dan menemukan kehendak Allah secara bersama sebagai satu umat Allah. 

Paus Fransiskus pada pidato 50 tahun berdirinya Sinode Para Uskup, 17 Oktober 2015, bahwa sinodalitas adalah "jalan yang Allah harapkan dari Gereja pada milenium ketiga."

Direktur Pusat Pastoral  (Puspas) Keuskupan Ruteng,  RD. Marthin Chen menyampaikan bahwa persiapan untuk sinode IV sudah dilakukan sejak bulan Mei 2025.

Disampaikan bahwa untuk perjalanan pastoral tahun 2026 akan banyak diisi dengan dialog, pertemuan untuk membicarakan hal-hal yang akan dilakukan sepuluh tahun ke depan.

Kemudian materi dilanjutkan oleh RD. Andi Jeramat yang menjelaskan garis besar tentang sinode IV dan dasar pemikiran serta arah pastoral ke depan. 

RD. Andi juga menjelaskan tentang langkah-langkah pengembangan katekese umat di masa Adventus yang lebih berfokus pada sinodalitas serta melihat dan merefleksikan perjalanan pastoral selama 10 tahun dalam sinode III Keuskupan Ruteng.

Gereja yang sinodal memiliki ciri, yakni Gereja yang mendengarkan, Gereja yang pastisipatif, Gereja yang misioner, Gereja yang membedakan roh (discerning church) dan Gereja yang melampaui klerikalisme.

Perikop Injil tentang kisah murid Emaus (Luk 24:13-35) lebih menampilkan inti sinodalitas sebagai berjalan bersama dalam terang Kristus. Dua murid berada dalam kesedihan dan kebingungan. Yesus datang ke tengah-tengah mereka, berempati dengan mereka. Ia membangun dialog : Ia bertanya dengan penuh empati dan dua murid itu berbicara tentang harapan,  kekecewaan dan kebingungan mereka. Yesus mendengarkan mereka dengan sabar dan tidak menghakimi mereka. Dialog yang tulus dan mendengarkan dengan punuh kasih adalah ciri-ciri 'jalan bersama' (sinodalitas).

Puncal perjalanan bersama itu adalah Ekaristi (pemecahan roti). Ketika Yesus makan bersama mereka dan memecahkan roti, terbukalah mata mereka. Hal ini mengiaskan Kejadian 3:7 di mana kedua manusia pertama (Adam dan Hawa) memakan buah kemudian mata mereka terbuka dan mereka tahu bahwa mereka telanjang. Maka, Ekaristi inilah yang menjadi puncak sinodalitas sekaligus sumber sinodalitas,  sumber kekuatan dalam peziarahan Gereja. 

Ada transformasi dalam 'jalan bersama' (sinode) para murid dengan Yesus. Perubahan dari sedih ke hati yang berkobar-kobar, dari menganggap Yesus sebagai orang asing, menjadi teman seperjalanan dan mengakui dengan jujur bahwa informasi (tentang kebangkitan)dari para perempuan itu benar.

Di tingkat Keuskupan,  sinodalitas mesti tampak dalam kolegialitas uskup-imam-awam melalui lembaga-lembaga seperti : Dewan Pastoral Keuskupan, Dewan Keuangan Keuskupan dan Sinode Keuskupan. Sinodalitas juga tampak melalui mekanisme mendengarkan umat.

Sementara itu, di tingkat Paroki, bentuk konkret sinodalitas tampak dalam hadirnya Dewan Pastoral Paroki yang aktif dan bukan hanya formalitas, dalam pengambilan keputusan bersama antara pastor paroki dengan dewan, dalam kegiatan pemberdayaan dan pelatihan karisma umat awam. Hal tersebut juga kemudain berlaku hingga ke stasi, wilayah dan stasi.

Maka kemudian dapat dikatakan bahwa sinodalitas bukan sekedar tema sinode tetapi adalah Identitas Gereja. Karakter dasarnya adalah pengharapan.

Dalam sosialisasi ini peserta diberikan angket dalam bentuk kuisioner sinode III untuk diisi oleh para imam dan utusan paroki yang hadir, dipandu oleh RD. Tanto. 

Mari bersinodal, mari berjalan bersama dalam satu harapan menuju Gereja yang lebih baik***


Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
LINK TERKAIT