
Melepaskan mereka bukan berarti kehilangan, melainkan sebuah bentuk pengorbanan dan dukungan umat untuk mempersiapkan mereka menjadi pelayan-pelayan Tuhan yang kelak akan berguna bagi Gereja dan sesama. Dengan kerelaan hati, umat pun mengantar kepergian mereka, sambil mengucapkan selamat jalan dan terima kasih.
Foto suasana pelepasan dan perpisahan umat Paroki St Eduardus Watunggong dengan para seminaris
Empat hari kebersamaan, persaudaraan, dan dinamika iman yang hangat telah terjalin erat antara para siswa Seminari St. Pius XII Kisol dengan seluruh umat Paroki St. Eduardus Watunggong.
Kini, momen yang tak terelakkan pun tiba. Hari Minggu, 24 Mei 2026, menjadi hari terakhir bagi para calon pelayan Tuhan ini untuk berada di tengah-tengah keluarga besar Watunggong, sebelum akhirnya harus berpisah dan kembali ke asrama seminari.
Kedatangan para siswa seminari untuk mengikuti kegiatan live in selama kurang lebih empat hari bukan sekadar sebuah kunjungan, melainkan momen berharga untuk hidup bersama, berbagi suka duka, dan menanamkan nilai-nilai persaudaraan di tengah umat.
Selama masa kegiatan tersebut, mereka telah sukses melaksanakan berbagai agenda yang dirancang, mulai dari pertemuan, pelayanan, hingga partisipasi aktif dalam kehidupan komunitas. Kehadiran mereka membawa semangat baru, warna baru, dan sukacita yang nyata di setiap sudut lingkungan paroki.
Puncak dan penutup dari seluruh rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan pada Perayaan Ekaristi Hari Raya Pentekosta pagi itu. Dalam perayaan yang penuh makna dan kemeriahan itu, para seminaris menampilkan bakat dan semangat pelayanan terbaik mereka, seolah menjadi persembahan terakhir dan kenangan indah yang mereka tinggalkan untuk umat Watunggong.
Usai perayaan Ekaristi selesai, waktu terus berjalan menuju detik-detik perpisahan. Sesuai jadwal, seluruh rombongan siswa seminari diarahkan untuk berkumpul kembali di kompleks pastoran sebelum pukul 12.00 siang. Di sinilah suasana haru dan rasa berat hati mulai menyelimuti hati semua pihak.
Tampak para orang tua asuh yang selama ini merawat, membimbing, dan menganggap para siswa ini sebagai anak kandung sendiri, berjalan beriringan mengantar mereka menuju pastoran. Tidak hanya orang tua asuh, umat dari berbagai Komunitas Basis Gerejani (KBG) juga turut hadir menyertai, menandakan betapa dalamnya ikatan batin yang telah terjalin dalam waktu yang singkat namun sangat berkesan ini.
Peristiwa penghantaran ini menjadi momen yang sangat berat. Ada perasaan tarik-menarik di hati umat: antara keinginan untuk menahan mereka agar tetap tinggal lebih lama, atau ikhlas melepaskan kepergian mereka untuk sementara waktu. Tatapan mata, senyum haru, hingga pelukan perpisahan menjadi bahasa yang paling jujur menggambarkan rasa kebersamaan yang telah terbentuk.
Meski hati terasa berat, kenyataan harus tetap diterima. Tugas dan tanggung jawab panggilan menuntut para siswa seminari untuk kembali melanjutkan pendidikan dan pembentukan diri mereka di Kisol. Ada satu kesadaran mendalam yang menyatukan hati umat Watunggong: bahwa apa yang selama ini mereka rawat, cintai dan anggap milik mereka, sesungguhnya adalah milik Tuhan.
Pesan Indah Pastor Paroki: Fokus dan Gapailah Cita-Cita Mulia
Dalam kesempatan perpisahan yang penuh haru ini, Pastor Paroki St. Eduardus Watunggong, RD. Martin Kendo, menyampaikan pesan yang sangat menyentuh dan penuh semangat kepada seluruh siswa seminari. Beliau mengingatkan agar setiap anak tetap teguh dan berpegang teguh pada tujuan awal serta motivasi suci yang melatarbelakangi langkah mereka masuk ke dalam dunia pembentukan di seminari.
"Anak-anakku terkasih, tetaplah fokus pada tujuan pilihan kalian dan ingatlah selalu motivasi awal yang membawa langkah kaki kalian masuk ke seminari ini," pesan Romo Martin dengan penuh keibuan. Beliau pun menyematkan harapan besar di hati para siswa, "Teruslah berjuang dan gapailah cita-cita mulia kalian itu. Kami semua di sini akan selalu menanti undangan tahbisan kalian kelak. Siapa tahu, dari antara kalian ada yang nantinya kembali ke tanah ini, ke Paroki St. Eduardus Watunggong, untuk melayani menjadi Pastor Paroki di tengah kami."
Ucapan tersebut disambut dengan tepuk tangan dan senyum haru, seolah menjadi doa restu terindah yang menjadi bekal semangat bagi para calon pemimpin Gereja ini.
Pesan dan Kesan: Singkat Namun Bermakna
Berbagai ungkapan perasaan juga tercurah dari kedua belah pihak. Bagi para siswa, kebersamaan selama empat hari ini terasa berlalu begitu cepat namun sangat mendalam. "Pertemuan ini terasa begitu singkat, namun setiap detiknya menyimpan makna yang sangat dalam bagi kami," ungkap salah satu perwakilan siswa. Mereka meyakini bahwa perpisahan ini bukanlah titik akhir dari sebuah kisah persaudaraan. "Perpisahan ini bukan akhir dari segalanya, melainkan jembatan yang akan menciptakan serangkaian pengalaman indah dan kenangan manis yang akan terus kami kenang dan ceritakan di masa mendatang," tambahnya.
Sementara itu, para orang tua asuh menyampaikan rasa bangga dan kesan mendalam atas karakter yang ditunjukkan selama tinggal bersama. Mereka sangat menekankan pada keteladanan yang terlihat jelas. "Kami sangat mengapresiasi pola hidup yang kalian tunjukkan: kedisiplinan yang tinggi, ketertiban, serta kerapian dan keteraturan dalam segala hal," ujar salah satu orang tua asuh mewakili yang lainnya. Bagi mereka, sikap hidup teratur dan disiplin tersebut adalah modal berharga yang sangat indah dan perlu terus dijaga serta ditingkatkan.
Harapan yang sama juga terpancar dari doa-doa seluruh orang tua asuh dan umat, yakni memohon agar Tuhan senantiasa menyertai dan memberikan kesuksesan dalam setiap tahapan pembelajaran dan pembentukan diri para seminaris.
Harapan Nyata: Selesaikan Tahapan Ini dengan Baik
Secara lebih rinci, Bapak Patris Samril Yosi yang mewakili seluruh orang tua asuh menyampaikan pesan yang sangat realistis sekaligus penuh kasih sayang. Beliau menyadari bahwa perjalanan panjang panggilan ini masih memiliki jalan yang harus ditempuh.
"Anak-anakku, mungkin jubah imamat dan stola itu masih terasa jauh untuk saat ini, masih ada jarak yang harus kalian tempuh untuk menggapai hal-hal suci itu," ujar Bapak Patris dengan bijak. "Namun harapan terbesar kami, doa tulus kami untuk saat ini sederhana saja: selesaikanlah masa studi satu tahun ke depan ini dengan baik, dengan penuh semangat dan keberhasilan. Itulah langkah awal terpenting bagi kalian."
Ikhlas Melepaskan Milik Tuhan
Melepaskan mereka bukan berarti kehilangan, melainkan sebuah bentuk pengorbanan dan dukungan umat untuk mempersiapkan mereka menjadi pelayan-pelayan Tuhan yang kelak akan berguna bagi Gereja dan sesama. Dengan kerelaan hati, umat pun mengantar kepergian mereka, sambil mengucapkan selamat jalan dan terima kasih.
"Selamat jalan, anak-anakku. Terima kasih telah hadir dan membawa sukacita ke tengah kami. Bawalah kenangan indah ini, pesan kami, dan doa kami sebagai kekuatan dalam melanjutkan pembentukan diri," itulah pesan penutup yang terungkap dari hati para umat.
Momen perpisahan ini ditutup dengan harapan besar. Meski raga berpisah dan jarak memisahkan, persaudaraan dan doa akan selalu menyertai langkah para siswa Seminari St. Pius XII Kisol.
Watunggong pun kini kembali tenang, menyimpan kenangan manis dan menanti saat pertemuan kembali di masa depan dengan keyakinan bahwa benih-benih panggilan yang telah ditanam akan tumbuh menjadi pemimpin yang setia.
Sayonara Watunggong, sampai jumpa kembali di lain waktu dan kesempatan yang lebih indah.***