
Melepaskan mereka bukan berarti kehilangan, melainkan sebuah bentuk pengorbanan dan dukungan umat untuk mempersiapkan mereka menjadi pelayan-pelayan Tuhan yang kelak akan berguna bagi Gereja dan sesama. Dengan kerelaan hati, umat pun mengantar kepergian mereka, sambil mengucapkan selamat jalan dan terima kasih.
Perjalanan hidup membawa kita pada berbagai perjumpaan dengan berbagai individu dalam beragam situasi dan nuansa. Setiap pertemuan akan berujung pada perpisahan yang tidak jarang menuntut orang untuk sedih, menangis dan bahkan terluka. Itulah yang dialami juga oleh umat paroki St. Eduardus Watunggong yang harus berpisah dengan seorang gembalanya.