RD Ino Sutam : Prosesi dan Ziarah Gambaran Gereja yang Hidup dan Bergerak

Prosesi dimaknai sebagai tanda Gereja yang sedang berjalan; melambangkan kondisi umat Allah yang berziarah bersama menuju tanah air surgawi. Gereja yang tidak hanya berpusat di altar tetapi berjalan, berziarah keluar untuk melihat realitas, membawa tanggung jawab sebagai peziarah yang membawa praksis altar ekonomi kreatif.

Kegiatan sidang hari ketiga sesi II Sinode IV Keuskupan Ruteng

Sidang sesi II Sinode IV Keuskupan pada hari kedua menitikberatkan pada bidang Pengudusan termasuk di dalamnya liturgi.

Setelah dibuka dengan doa, kegiatan dilanjutkan dengan persentase hasil penelitian (angket) bidang pengudusan oleh tim peneliti Universitas Katolik (UNIKA) St Paulus Ruteng dan RD Thomas Julivadistanto (RD Tanto)  yang domoderatori RD Martin Chen. 

RD Tanto, adalah tokoh kunci dalam persiapan Sinode IV Keuskupan Ruteng yang berlangsung pada tahun 2026. 

Tim peneliti memaparkan dengan jelas dan terperinci tentang partisipasi umat dalam angket yang menunjukkan keaktifan umat dalam program-program bidang pengudusan.

RD Tanto kemudian memberi penjelasan dan penegasan tentang survei yang diakhiri dengan rekomendasi-rekomendasi baik untuk dilakukan pada implementasi sinode IV sepuluh tahun ke depan.

Salah satu rekomendasi yakni tentang pendalaman spiritualitas Ekaristi.  Umat diajak terlibat aktif dan kritis, membangun budaya komunikasi iman yang terbuka, menghargai setiap bentuk perayaan liturgi termasuk perayaan tanpa Imam dan Pelayan Akolit, menata secara konsisten Misa Inkulturasi,  misa harian dan misa votif agar Ekaristi sungguh menjadi puncak iman sekaligus jiwa perayaan hidup dan adat. 

Tentang sakramen pernikahan, mengusik sedikit tentang seremonia versus perjumpaan dengab Allah. Sering terjadi, umat lebih mengutamakan seremonial jasmani daripada menghormati kesakralan sakramen sebagai bentuk perjumpaan dengan Allah. Oleh karena itu, RD Tanto menawarkan agar dilakukan pembinaan intensif tentang sakramen.

Berdasarkan hasil angket, RD Tanto juga mengangkat tentang prosesi. Kelemahannya adalah karena belum ada jadwal rutin dan pasti serta partisipasi umat yang masih lemah.

Setelah persentase hasil penelitian bidang Pengudusan,  dilanjutkan materi tentang "Gereja yang berziarah dalam prosesi dan festival religi" oleh RD Ino Sutam.


Domoderatori oleh RD Martinus Gunardi Kendo, Romo Ino menyampaikan secara jelas dan lengkap tentang Gereja yang berziarah dan prosesi-prosesi sakramentali.

RD Ino Sutam memberi judul "Gereja peziarah (ecclesia peregrinans) pada materinya. Mengajak peserta untuk mampu dan berani membaca tanda-tanda. Kita harus menjadi anak-anak zaman tetapi jangan sampai jadi hamba-hamba zaman.

Kita ini perantau di tanah pinjaman. Kita hanya bisa mengikuti jalan yang Kristus tunjukkan.  Selai berziarah, juga bermisioner, maksudnya berziarah dengan perutusan, ziarah bertanggung jawab untuk Gereja dan seluruh dunia. 

Kita bisa belajar dari Maria sebagai model peziarah perutusan.  Maria berziarah dari Nazaret ke Mesir, membawa tanggung jawab perutusan yakni membawa Yesus. 

Kita dipanggil untuk memikul tanggung jawab membawa kabar gembira. Kita juga dipanggil untuk dikuduskan karena kita ini rapuh. Ada rahmat tetapi karena kita ini dibentuk dari bejana tanah liat sehingga kita berziarah sambil memurnikan diri.

RD Ino Sutam menjelaskan juga tentang sejarah keselamatan. Siklusnya yakni keselamatan dimulai dari penciptaan,  kejatuhan dalam dosa, panggilan Israel, misteri inkarnasi, misteri paskah dan misteri eskatologi.

Maka salah satu tugas Gereja peziarah yakni mentransformasi dunia dengan menjadi ragi, garam dan terang.

Penjabaran selanjutnya juga mengenai bagaimana praksis pastoral Gereja dalam festival religi dan prosesi spiritual. Hal itu lalu dikaitkan dengan altar ekonomi kreatif  (roti dan anggur) yang jadi persembahan menghidupkan. 

Prosesi dimaknai sebagai tanda Gereja yang sedang berjalan; melambangkan kondisi umat Allah yang berziarah bersama menuju tanah air surgawi. 

Pemaparan materi ini berakhir dengan sesi tanya jawab tentang hal-hal yang perlu dibuat untuk mewujudkan Gereja peziarah secara baik dan berkala. 

Agenda selanjutnya yakni syering praktik baik yang menghadirkan para pelaku di bidang pengudusan yang menghidupkan gerakan-gerakan baik di stasi dan komunitas rohani.

Selanjutnya peserta dibagikan dalam bentuk kelompok untuk berdiskusi dan dilanjutkan dengan pleno hasil diskusi.***




Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
LINK TERKAIT