Misa Syukur Panen dan Pembukaan Ritual Irong Ngerit di Gendang Ntungal Watunggong

Perayaan Ekaristi Inkulturasi dilaksanakan di gendang Ntungal Watunggong Congkar-Manggarai Timur NTT sekaligus misa syukur panen yang didahului dengan ritus adat tanam benih simbolis yang sudah dilumuri darah hewan yakni kambing dan babi dengan maksud agar benih yang ditanam dan ketika tumbuh nanti tidak diserang hama.

Kolase foto upacara adat Irong Ngerit dan misa syukur panen

Budaya merupakan sebuah hal yang sudah ada sejak seorang manusia lahir di dunia. Budaya diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang yang kemudian kita sebut sebagai warisan leluhur.

Setiap daerah, suku dan bangsa memiliki budaya masing-masing dan berbeda-beda. Salah satunya adalah suku gendang Ntungal Watunggong dan Kelok Wea yang setia dan taat melestarikan budaya warisan leluhur. 

Masyarakat Watunggong masih kental dalam budaya setempat. Hal tersebut tampak dalam ritual atau prosesi budaya yang dilaksanakan setiap tahun.

Prosesi tersebut dikenal dengan nama "Irong Ngerit." 

Irong Ngerit dimaksudkan sebagai bentuk doa, permohonan kepada Sang Penguasa Alam Semesta dengan sebutan "Tana Wa Awang Eta" dan kepada leluhur. Permohonan untuk musim tanam berikutnya.

Irong dilaksanakan selama dua hari 3 malam setiap tahun. Untuk melaksanakan Irong, harus dipatuhi pantangan dan larangan yang disepakati bersama secara turun-temurun. Larangan-larangan tersebut wajib ditaati, jika tidak maka akan ada sanksi adat yang menggugatnya.

Tahun ini, pelaksanaan Irong Ngerit diawali dengan perayaan Ekaristi Kudus sekaligus sebagai misa syukur panen.

Ritual adat dan perayaan Ekaristi dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 27 September 2025.

Tu'a Teno gendang Ntungal Watunggong, Bapak David Geong sukses memimpin seluruh ritual hingga akhir dan disempurnakan dengan misa Kudus.

Pastor Paroki St. Eduardus Watunggong Congkar-Manggarai Timur NTT, RD. Martinus Gunardi Kendo (RD. Maken) dalam homilinya menyampaikan tentang betapa pentingnya ungkapan syukur.

"Kita bersama-sama hadir di sini untuk sebuah ritual yang bernilai tinggi. Budaya Irong Ngerit yang merupakan warisan leluhur wajib untuk dilestarikan. Ini juga dibarengi dengan ungkapan syukur panen. Setiap hasil panen atau usaha yang kita miliki merupakan perwujudan cinta Tuhan bagi kita sehingga nada syukur harus kita miliki," ungkapnya.


Mengutip bunyi Alkitab, "siapa yang menabur dengan rendah hati akan menuai dengan sukacita" menjadi salah satu motivasi dan acuan kita untuk senantiasa berupaya, bekerja menghasilkan sesuatu bagi kehidupan setiap kita. 

Kita akan selalu kembali ke tanah dalam setiap profesi kita. Apakah seorang petani, pengusaha ataupun pegawai kantoran. Semua pasti kembali merawat tanaman yang berkaitan dengan tanah. 

Perayaan syukur panen ini juga sekaligus menjadi misa ekologi karena yang hadir duduk beralaskan tanah dan beratapkan langit. 

Perayaan Ekaristi berlangsung khidmat dan sukses. 

Untuk diketahui, sebagai tanda dimulainya Irong Ngerit akan dilakukan ritus "tapa satar" yakni membakar Padang sejarah sebagai dengan tujuan bahwa abunya bisa menembus dan sampai kepada leluhur yang berada dan meninggal di negeri seberang.

Ritual adat Irong Ngerit berlangsung selama 3 malam dan dua hari yakni pada tanggal 27-29 September 2025.***





Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
LINK TERKAIT