
OMK Paroki St. Eduardus Watunggong melakukan pendataan terhadap umat (paling) terdampak gempa bumi sebagai tindak lanjut permintaan Caritas Keuskupan Ruteng
WATUNGGONG — Pada Rabu (2/9/2026), di tengah sisa guncangan
gempa bumi yang masih menyisakan kecemasan, Orang Muda Katolik (OMK) Pusat
Paroki Watunggong bergerak cepat melakukan pendataan korban terdampak. Aksi
kemanusiaan ini digerakkan untuk memenuhi permintaan Caritas Keuskupan Ruteng
yang memerlukan data akurat dan valid, demi memastikan penyaluran bantuan
nantinya benar-benar tepat sasaran.
Menariknya, di balik langkah sigap tersebut
tersimpan cerita pengorbanan yang mendalam. Sebagian besar pemuda OMK ini
sebenarnya juga berstatus sebagai korban terdampak, dengan kondisi rumah yang
mengalami kerusakan serta keluarga yang masih diliputi kepanikan. Namun,
alih-alih meratapi keadaan atau membenahi tempat tinggal mereka sendiri, mereka
memilih menanggalkan kepentingan pribadi. Panggilan kemanusiaan ditempatkan
jauh di atas segalanya demi mengabdi sebagai relawan di tengah situasi darurat.
Dalam menjalankan tugas lapangan, OMK membagi diri
ke dalam kelompok-kelompok kecil beranggotakan tiga hingga lima orang. Berbekal
kendaraan motor pribadi, mereka menembus medan jalan yang rusak parah dan sulit
dijangkau demi mencapai wilayah-wilayah yang terisolasi.
Mereka melakukan pendataan berdasarkan kelompok yang telah di bagi di Stasi Pusat (Desa Satar Nawang), Stasi Wea (Desa Wea), Stasi Paleng (Desa Benteng Rampas), Stasi Ntaram (Desa Golo Ngawan), dan Stasi Wangkar (Desa Rana Mese).
Setibanya di setiap titik, OMK mendatangi kantor desa untuk berkoordinasi dengan kepala desa. Langkah koordinasi bersama pemerintahan desa ini dilakukan atas permintaan Caritas Keuskupan Ruteng agar data yang dikumpulkan OMK bersumber langsung dari aparat setempat dan tercipta kesesuaian data yang valid. Selain itu, mereka juga menyambangi Puskesmas Pembantu (Pustu) guna menghimpun data khusus kelompok rentan seperti bayi dan ibu hamil yang membutuhkan perhatian medis darurat.
Berbekal data awal tersebut, OMK langsung turun blusukan ke permukiman warga. Mereka berjalan kaki melintasi puing-puing reruntuhan bangunan untuk mengobservasi secara langsung kondisi faktual para korban, seperti kerusakan rumah, korban luka-luka, serta keadaan tenda hunian yang dibuat seadaanya.
Seluruh kegiatan mulia ini dilakukan secara murni
sukarela tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Apa yang ditunjukkan oleh OMK
Pusat Paroki Watunggong bukan sekadar sebuah tugas pendataan teknis, melainkan wujud
solidaritas tanpa pamrih. Di saat tanah tempat mereka berpijak terluka dan duka
menyelimuti sesama, tangan-tangan muda ini memilih untuk merangkul, mendengarkan,
dan membuktikan bahwa di balik reruntuhan paling parah sekalipun, semangat
solidaritas dan kemanusiaan akan selalu menemukan jalan untuk menyalakan asa.