Membangun Ekosistem Pewartaan Digital dalam Gereja yang Sinodal, Sesi II Sinode IV Keuskupan Ruteng

Romo Haryatmoko menjabarkan juga tentang trik dan tahapan pembuatan akun media digital juga menganjurkan agar sebaiknya dibentuk tim untuk lebih memudahkan seluruh proses pewartaan berbasis digital. Resiko pasti selalu ada tetapi kita mesti berkeyakinan bahwa pewartaan berbasis digital merupakan sebuah model pewartaan yang lebih mudah diakses dan cepat sampai kepada umat.

Kegiatan hari kedua sesi II Sinode IV Keuskupan Ruteng tentang pewartaan pastoral berbasis digital

Kegiatan sidang sesi II Sinode IV Keuskupan Ruteng berbicara secara khusus tentang pewartaan pastoral berbasi digital.

Materi-materi yang disampaikan lebih banyak menyoroti tentang bagaimana Gereja yang sedang berada di dalam arus digital dan mesti berselancar di dalamnya.

Romo Doktor Haryatmoko, SJ sebagai pemateri ahli menjabarkan dengan sangat baik tentang membangun ekosistem pewartaan digital dalam Gereja yang sinodal.

Dalam Gereja digital, ekosistem di dalamnya mencakup umat, iman, konten, platform, relasi dan nilai. Seluruh sistem yang membuat pewartaan itu berjalan, bergerak dan berdampak.

Dosen beberapa Universitas terkemuka di Indonesia tersebut memberikan beberapa refleksi tentang berpastoral di media digital, diantaranya:

1. Cara memahami diri lebih ke identitas digital.

2. Cara membangun relasi (networked relationship)

3. Meneriman kebenaran melalui algoritma dan viral.

 Selain itu, dijelaskan juga tentang dunia digital yang melahirkan era post-truth, tentang : ilusi "muller-lier" dan echo chamber.

Selain itu, digambarkan juga tentang Artificial Intelligence (AI) dalam pewartaan digital-peluang dan batasan teologi-etis, juga tentang dunia digital sebagai ruang pewartaan Injil.

Materinya dipaparkan dengan lugas dan jelas sambil diselingi beberapa cerita humor yang membuat peserta tetap melek dan semangat mengikutinya.

Romo Haryatmoko menjabarkan juga tentang trik dan tahapan pembuatan akun media digital juga menganjurkan agar sebaiknya dibentuk tim untuk lebih memudahkan seluruh proses pewartaan berbasis digital. Resiko pasti selalu ada tetapi kita mesti berkeyakinan bahwa pewartaan berbasis digital merupakan sebuah model pewartaan yang lebih mudah diakses dan cepat sampai kepada umat.

Setelah sesi tanya jawab atas materi tersebut, dilanjutkan dengan sesi berikutnya yakni persentase hasil penelitian bidang Pewartaan berkaitan dengan dengan implementasi pastoral Sinoda III oleh RD. Marthin Chan dan tim peneliti UNIKA St Paulus Ruteng. 

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan syering  praktik baik bidang pewartaaan dengan nara sumber dari Paroki St. Eduardus Watunggong (Agus Seran), Paroki Reo (Pius Jemadu), Paroki Cancar (Paul Nagel), dan RP. Bovan Lelo, OFM.

Pewartaan digital lewat akun-akun media sosial Paroki dan website diceritakan oleh Bapak Agus Seran yang mengajak Paroki-paroki lain untuk turut masuk berselancar di zaman digital ini. 

Dijelaskan bahwa media digital sekarang menjadi "ruang paroki baru" yang menjangkau lebih banyak orang, lintas generasi, melampaui batas geografi.  Dia menjadi ruang perjumpaan barudan sarana komunitas virtual sekaligus alat pendidikan iman. 

Website paroki bukan lagi hanya sebatas situs internet tetapi lebih dari itu merupakan cermin dari komunitas yang hidup.

Kegiatan hari ini diakhiri dengan diskusi kelompok yang kemudian dipresentasekan dalam bentuk pleno oleh setiap juru bicara.***




Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
LINK TERKAIT