Membagi Berkat, Menanam Harapan: Langkah Kasih Suster Ursulin di Tengah Puing Keterbatasan

Kunjungan rombongan para suster Ursulin di Stasi Kenda/Lawi dalam rangka pembagian paket sembako bagi umat terdampak gempa bumi.

Rombongan para suster Ursulin membagikan paket sembako.

Watunggong - 20 Agustus 2026 – Guncangan dahsyat bermagnitudo 7,7 yang meluluhlantakkan sebagian bumi Flores masih menyisakan trauma dan puing-puing duka. Puluhan nyawa telah berpulang, dan ribuan lainnya terpaksa bertahan dalam keadaan serba kekurangan. Namun, di tengah pekatnya bayangan keputusasaan, terang kasih senantiasa menemukan jalannya. Pada Kamis sore, 20 Agustus 2026, rombongan Suster Ordo Santa Ursula (Ursulin) hadir membawa secercah kehangatan bagi masyarakat penyintas gempa di Stasi Lawi/Kenda, Paroki St. Eduardus Watunggong.

Mewakili semangat pendiri mereka, Santa Angela Merici, rombongan biarawati yang dipimpin oleh Sr. Lidfina, OSU, itu bergerak menyalurkan 40 paket sembako kepada umat yang paling membutuhkan. Misi kemanusiaan ini terasa semakin menyentuh hati, mengingat salah satu putri asli kelahiran Stasi Kenda/Lawi juga menjadi suster dalam Kongregasi tersebut. Ancaman gempa susulan yang beberapa saat terakhir tercatat menembus kekuatan 5 magnitudo seolah tak mampu menyurutkan langkah iman mereka. Bagi para biarawati ini, panggilan untuk hadir bagi sesama yang menderita bergema jauh lebih kuat daripada gemuruh retakan bumi. Kehadiran para suster ini sekaligus menjadi teguran diam bagi ketiadaan posko bantuan yang memadai dan minimnya tanggap darurat resmi di area Paroki Watunggong yang termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Congkar. Sekali lagi, Gereja berusaha dengan kekuatan seadanya untuk mengisi ruang kosong tersebut.

Seusai membagikan bantuan, rombongan para suster Ursulin menyempatkan diri singgah sejenak di pastoran Paroki Watunggong. Suasana persaudaraan yang hangat langsung terasa saat mereka disambut oleh Pastor Paroki, RD Martin Kendo, bersama segenap warga komunitas pastoran. Sembari memandangi bangunan Gereja Paroki yang kini rapuh dan retak diterjang gempa, RD Martin menyampaikan apresiasi dan rasa syukurnya yang mendalam. Kunjungan ini bukan sekadar penyerahan materi, melainkan bentuk nyata solidaritas iman, di mana keluarga besar Ursulin Indonesia turut memikul salib penderitaan bersama umat Watunggong.


Menjelang senja, rombongan para suster bertolak kembali menuju Ruteng. Perjalanan mereka meninggalkan sebuah pesan yang dalam bagi kita semua tentang kasih sejati. Mengulurkan tangan di saat berkelimpahan dan aman adalah hal biasa, namun berani berbagi di saat diri sendiri turut terancam bayang-bayang maut adalah bentuk paling sempurna dari cinta Kristiani. Di tengah musibah ini, mari kita belajar menghargai dan mendoakan semua pihak yang memilih untuk tidak mengingat dirinya semata dan tekun berusaha membantu orang lain yang jauh lebih membutuhkan uluran tangan. Mereka membuktikan bahwa di balik kerentanan dan ketakutan manusiawi kita, rahmat Allah justru bekerja paling nyata.

LINK TERKAIT