Ketika Yesus Hadir, Harapan tidak Pernah Mati

Mukjizat terbesar bukanlah berubahnya keadaan, melainkan hati yang kembali percaya karena kehadiran Kristus. Seperti Marta, kita diajak tetap percaya bahwa di hadapan Kristus, tidak ada kubur yang dapat mengalahkan harapan.

Rabu Pekas Biasa XVII

Peringatan Wajib Santa Marta, Maria & Lazarus

 

Bacaan:

I Yohanes 4:7-16

Mazmur 34:2-3.4-5.6-7.8-9.10-11

Yohanes 11:19-27

 

Ada saat-saat ketika hidup terasa seperti sebuah makam. Bukan karena kita telah mati, tetapi karena harapan yang kita peluk perlahan terkubur oleh kenyataan. Kita seringkali datang ke Gereja dengan senyum, tetapi masih pulang dengan hati yang menyimpan kesedihan. Seperti Marta, kita mengenal Tuhan, namun mungkin tetap bertanya dalam diam, "Mengapa Engkau terlambat?"

Seperti Marta, bagi kita tangisan tidak selalu menandakan lemahnya iman. Tangisan juga berarti bahasa hati yang percaya bahwa harapan tidak pernah mengecewakan. Marta menangis bukan karena ia berhenti percaya kepada Yesus, melainkan karena ia tidak lagi melihat jalan bagi saudaranya, Lazarus, yang telah meninggal. Kita sering berada dalam pergumulan itu: iman masih ada, tetapi tak lagi menemukan jalan yang terbaik untuk setiap pergumulan hidup.  

Namun Yesus datang bukan hanya ke rumah Marta. Yesus datang ke dalam pergumulan kita. Yesus tidak memulai percakapan dengan penjelasan, melainkan dengan kehadiran. Sebab sering kali yang paling dibutuhkan bukan jawaban atas semua pertanyaan, melainkan kepastian bahwa Tuhan tidak meninggalkan kita sendirian. Tuhan selalu hadir, tapi kita seringkali kita tak menyadarinya.

Yesus tidak berkata, "Aku akan memberikan kebangkitan." Ia berkata, "Akulah kebangkitan dan hidup." Kebangkitan bukan sekadar peristiwa di masa depan; kebangkitan adalah tentang Yesus yang hadir hari ini. Di mana Kristus hadir, harapan tidak pernah benar-benar mati. Di mana Kristus tinggal, bahkan “batu-batu” pergumulan yang menutup harapan dan kepercayaan dapat digulingkan.

Sering kali kita meminta Tuhan mengubah keadaan. Namun sebelum keadaan berubah, Tuhan terlebih dahulu mengubah hati kita. Sebelum Lazarus keluar dari kubur, Marta diajak keluar dari kubur keraguannya. Mukjizat terbesar bukanlah ketika orang mati hidup kembali, melainkan ketika hati yang putus asa kembali percaya.

Mungkin hari ini kita membawa "Lazarus-Lazarus" dalam hidup kita: impian yang mati, hubungan yang retak, kesehatan yang rapuh, atau hati yang lelah. Injil hari ini mengingatkan bahwa Kristus tidak gentar menghadapi makam. Ia memasuki tempat yang paling gelap justru untuk menghadirkan terang. Marilah kita datang kepada Yesus dengan segala luka, sebab Dia tidak hanya menghibur mereka yang berduka. Dia adalah Kebangkitan dan Hidup.

 

 

LINK TERKAIT