Jalan Menuju Kemuliaan

Tahta yang dicari manusia berubah menjadi cawan di tangan Yesus. Dari cawan pengorbanan itulah lahir kemuliaan. Sebab, di hadapan Allah, yang terbesar bukanlah tentang menjadi yang paling tinggi, tetapi yang paling dalam mengasihi dan menjadi berkat.

Sabtu, 25 Juli 2026

Pekan Biasa XVI

Pesta Santo Yakobus Rasul

 

Bacaan:

2 Korintus 2:7-15

Mazmur 126:1-2ab.2cd-3.4.5.6

Matius 20:20-28

 

 

Ada keinginanan yang diam-diam bersemayam di hati dan pikiran kita: ingin lebih tinggi, lebih berkuasa, lebih leluasa, dan lebih dihormati. Namun, Injil hari ini menggugah kita bahwa di hadapan Allah, jalan menuju kemuliaan justru berawal dari kerendahan hati.

Saat para murid memikirkan takhta, Yesus berbicara tentang cawan. Saat mereka menginginkan kehormatan, Yesus menunjukkan jalan pengorbanan. Ini menunjukkan pengorbanan merupakan permulaan dari kemuliaan. Yesus menandaskan kasih sejati tidak lahir dari keinginan untuk dilayani, melainkan dari keberanian untuk melayani. Sebab kasih mengalahkan kuasa, pengorbanan melenyapkan keangkuhan, dan kerendahan hati memusnahkan ambisi yang tak bertepi. Karena itu, semakin seseorang dipenuhi kasih, ia tidak sibuk meninggikan diri, melainkan mengangkat sesamanya dari kehinaan.

Yesus adalah teladan untuk itu. Ia datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani, bahkan menyerahkan hidup-Nya bagi banyak orang. Maka, kebesaran seorang murid bukan diukur dari seberapa tinggi ia berdiri, melainkan seberapa dalam ia rela mengasihi, seberapa tulus memerhatikan yang terlupakan, dan seberapa besar pengampunan yang diberikan kepada sesama.

Barangkali hari ini Tuhan tidak meminta kita menjadi orang besar. Ia hanya meminta kita menjadi setetes embun yang menyegarkan hati yang gersang, menjadi sepotong roti bagi yang lapar, menjadi seberkas cahaya bagi mereka yang kehilangan arah. Sebab di mata Allah, kebesaran bukanlah soal seberapa tinggi kita berdiri, melainkan seberapa dalam kita telah mengasihi dan rela menjadi berkat bagi sesamanya.

 

LINK TERKAIT