
Hari ini, kita diajak bukan sekadar menjadi pendengar firman, melainkan menjadi tanah yang baik. Tanah yang rela dibajak oleh pertobatan, disiram oleh doa, dan diterangi oleh kasih. Sebab hanya hati yang bersedia diolah akan menghasilkan buah yang memberi kehidupan bagi sesama, meskipun masalah mungkin selalu ada, tetapi damai juga akan tetap hadir atau air mata mungkin masih jatuh, tetapi harapan tidak lagi padam.
Jumat,
24 Juli 2026
Pekan
Biasa XVI
Bacaan:
Bacaan
I: Yeremia 3:14-17
Mazmur
Tanggapan: Yeremia 31:10.11-12ab.13R:10d
Injil:
Matius 13:18-23
Sobat-sobat Gaung yang terkasih,
Benih tak pernah memilih ke mana ia
ditaburkan. Ia hanya membawa kehidupan. Tanah yang menerimanya yang menentukan
apakah ia akan tumbuh, layu, atau mati.
Demikian pula firman Tuhan. Firman itu
selalu hidup, memberi harapan, dan mengandung makna untuk mengubah hidup. Namun,
apakah hati kita masih memberi ruang untuk firman Tuhan?
Kadang-kadang hati kita menjadi seperti benih
yang ditaburkan di pinggir jalan. Bukan karena kita tidak percaya, tetapi
karena terlalu banyak langkah kehidupan yang menginjaknya. Kekecewaan, luka,
kegagalan, dan rutinitas membuat hati kehilangan kelembutannya. Firman Tuhan
hanya lewat di permukaan, tanpa sempat meresap.
Di lain waktu, hati kita seperti tanah
berbatu. Kita begitu bersemangat saat segala sesuatu berjalan baik. Namun
ketika doa terasa hampa, ketika salib harus dipikul, atau ketika jawaban Tuhan
tidak sesuai harapan, akar iman kita pun menjadi dangkal.
Ada pula saat hati kita dipenuhi semak duri.
Bukan dosa-dosa besar yang menjauhkan kita dari Tuhan, melainkan kesibukan yang
tidak pernah selesai, kekhawatiran yang menguras pikiran, dan
keinginan-keinginan yang perlahan memenuhi ruang batin. Tanpa kita sadari,
firman Tuhan tidak ditolak, tetapi tersisihkan.
Namun, Injil hari ini tidak berhenti pada
tiga jenis tanah itu. Yesus juga berbicara tentang tanah yang baik. Tanah yang
bukan sempurna, melainkan tanah yang bersedia diolah.
Barangkali itulah yang Tuhan harapkan dari
kita. Bukan hati yang tidak pernah terluka, tetapi hati yang tetap mau dibajak
oleh pertobatan. Bukan hidup yang bebas dari persoalan, tetapi hidup yang tetap
terbuka terhadap firman-Nya.
Hari ini, kita diajak bukan sekadar menjadi
pendengar firman, melainkan menjadi tanah yang baik. Tanah yang rela dibajak
oleh pertobatan, disiram oleh doa, dan diterangi oleh kasih. Sebab hanya hati
yang bersedia diolah akan menghasilkan buah yang memberi kehidupan bagi sesama,
meskipun masalah mungkin selalu ada, tetapi damai juga akan tetap hadir atau air
mata mungkin masih jatuh, tetapi harapan tidak lagi padam.