Di Tengah Reruntuhan, Belarasa Menyalakan Harapan : Bantuan Tempat Ibadat Darurat bagi Umat Paroki St. Eduardus Watunggong

Terima kasih kepada Bapak Jimmy Widjaja atas kepedulian dan bantuan kemanusiaan yang diberikan. Terima kasih pula kepada Pendeta Ronal, Babinsa Kecamatan Congkar, serta semua pihak yang telah mengambil bagian dalam menghadirkan kepedulian bagi umat Paroki St. Eduardus Watunggong.

Kunjungan Pendeta Ronal dan Babinsa Congkar yang menyalurkan bantuan tunai dari Bapak Jimmy Widjaja

Watunggong, 5 September 2026 — Ketika gempa bumi mengguncang Flores dan meninggalkan kerusakan pada bangunan-bangunan, kehidupan umat beriman pun ikut terdampak. Namun, di tengah reruntuhan dan keterbatasan, harapan tidak ikut runtuh. Justru dalam situasi sulit itulah wajah belarasa dan persaudaraan kemanusiaan kembali tampak.

Paroki St. Eduardus Watunggong merupakan salah satu wilayah Gereja yang terdampak gempa bumi Flores. Gedung Gereja pusat paroki dan tiga kapela stasi mengalami kerusakan berat sehingga tidak lagi layak digunakan sebagai tempat pelayanan ibadat dan perayaan Ekaristi.

Bagi umat, kerusakan bangunan gereja bukan hanya kehilangan sebuah gedung. Gereja adalah tempat umat berkumpul sebagai satu tubuh Kristus, tempat Sabda Allah diwartakan, Ekaristi dirayakan, doa-doa dipanjatkan, dan persaudaraan diteguhkan. Karena itu, kebutuhan akan tempat ibadat darurat menjadi kebutuhan yang mendesak.

Ketika Gereja Rusak, Iman Tidak Boleh Berhenti

Dalam kondisi tersebut, perhatian dan kepedulian dari berbagai pihak mulai berdatangan. Sejumlah pihak telah mengunjungi wilayah terdampak, mendata kondisi bangunan Gereja dan kapela, serta memberikan bantuan secara langsung.

Salah satu bentuk kepedulian datang dari Bapak Jimmy Widjaja, yang memberikan bantuan sebagai wujud belarasa dan murni atas dasar kemanusiaan.

Bantuan tersebut disalurkan melalui Pendeta Ronal dan difasilitasi oleh Babinsa Kecamatan Congkar. Pada Sabtu (05/09), Pendeta Ronal bersama Babinsa mendatangi Pastoran Paroki St. Eduardus Watunggong dengan membawa bantuan tunai yang diperuntukkan bagi pengadaan bahan bangunan dan perlengkapan tempat ibadat darurat.

Bantuan tersebut ditujukan untuk dua tempat, yakni Gereja Pusat Paroki St. Eduardus Watunggong dan Kapela Stasi St. Yohanes Wea.

Adapun kebutuhan yang hendak dipenuhi melalui bantuan tersebut antara lain:

  • 400 lembar seng (zink)
  • 200 buah kursi
  • 1 buah meja altar
  • Speaker

Bantuan diterima langsung oleh Pastor Paroki, RD Martinus Gunardi Kendo, dan disaksikan oleh para pengurus Stasi Wea.


Belarasa yang Melampaui Batas

Kehadiran bantuan ini memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar nilai material. Di tengah bencana, sebuah tangan yang terulur dapat menjadi tanda bahwa masih ada saudara yang peduli. Sebuah bantuan dapat menjadi penguat bagi mereka yang sedang berjuang untuk bangkit.

Yang semakin mengharukan, bantuan tersebut hadir melalui sebuah jembatan persaudaraan lintas denominasi. Pendeta Ronal hadir bersama Babinsa untuk membawa kepedulian Bapak Jimmy Widjaja kepada umat Katolik yang sedang mengalami kesulitan.

Inilah wajah kemanusiaan yang sesungguhnya: ketika penderitaan tidak lagi dilihat berdasarkan perbedaan, tetapi sebagai panggilan untuk saling menolong.

Semangat ini sejalan dengan panggilan Kristiani untuk menghadirkan kasih kepada sesama. Sebab iman tidak hanya diwujudkan dalam doa dan perayaan liturgi, tetapi juga dalam keberanian untuk hadir, berbagi, dan meringankan beban mereka yang sedang menderita.

Membangun Tempat Ibadat, Memulihkan Harapan

Tempat ibadat darurat yang hendak dibangun bukan sekadar bangunan beratap seng dengan kursi dan perlengkapan sederhana. Di tempat sederhana itu nantinya umat akan kembali berkumpul sebagai satu keluarga.

Di sana Sabda Allah akan kembali didengarkan.

Di sana doa akan kembali dinaikkan.

Di sana Ekaristi akan kembali dirayakan.

Dan di sana umat akan saling menguatkan untuk bangkit dari luka akibat bencana.

Karena itu, setiap lembar seng, setiap kursi, setiap perlengkapan altar, dan setiap perangkat suara yang diberikan sesungguhnya memiliki arti yang jauh lebih besar: semuanya menjadi bagian dari usaha memulihkan kehidupan iman umat.

Gereja boleh mengalami kerusakan. Kapela boleh kehilangan kekuatan bangunannya. Tetapi iman dan harapan umat tidak boleh runtuh bersama bangunan yang roboh.

Harapan di Tengah Reruntuhan

Gempa telah meninggalkan luka, tetapi belarasa menghadirkan penghiburan. Gempa telah merusak bangunan, tetapi persaudaraan mulai membangunnya kembali. Dan ketika banyak tangan bergandengan, selalu ada harapan bahwa umat akan mampu melewati masa sulit ini.

Terima kasih kepada Bapak Jimmy Widjaja atas kepedulian dan bantuan kemanusiaan yang diberikan. Terima kasih pula kepada Pendeta Ronal, Babinsa Kecamatan Congkar, serta semua pihak yang telah mengambil bagian dalam menghadirkan kepedulian bagi umat Paroki St. Eduardus Watunggong.

Semoga kebaikan yang ditaburkan menjadi berkat dan membawa sukacita bagi banyak orang.

Kiranya Tuhan sendiri yang menguatkan umat yang terdampak bencana, menyertai setiap proses pembangunan kembali, dan menggerakkan semakin banyak hati untuk hadir dalam semangat persaudaraan.

Sebab ketika sebuah gereja runtuh, kita tidak sedang kehilangan Tuhan. Tuhan tetap hadir di tengah umat-Nya—bahkan di antara reruntuhan. Dan melalui tangan-tangan yang penuh kasih, Tuhan sedang membangun kembali harapan.

Gereja boleh rusak, tetapi iman tidak boleh runtuh.

Bangunan boleh roboh, tetapi persaudaraan harus tetap teguh.

Di tengah bencana, kasih Kristus terus bekerja.***

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
LINK TERKAIT