
Di tengah bencana gempa bumi, Paroki St. Eduardus Watunggong berusaha untuk tetap hadir di tengah umatnya.
Romo Martin sedang mengunjungi lansia yang menderita patah kaki.
Watunggong - 15 Agustus 2026 - Pagi yang sunyi di tanah Flores mendadak pecah oleh guncangan hebat. Pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 05.58 WITA, gempa dahsyat berkekuatan 7,7 SR menerjang tanpa ampun, membawa duka hingga ke pelosok Paroki Watunggong, Kecamatan Congkar, Kabupaten Manggarai Timur. Pusat peribadatan umat menjadi salah satu saksi bisu kerasnya guncangan alam tersebut. Gedung gereja paroki mengalami kerusakan berat, menyisakan retakan pada tiang-tiang penyangga serta hancurnya bagian sakristi dan panti imam. Bangunan itu kini terlalu rapuh dan berbahaya untuk digunakan.
Namun, di tengah puing dan kepedihan, nyala iman umat tidak ikut runtuh. Sehari setelahnya, pada perayaan Hari Raya Maria Diangkat ke Surga (Minggu, 16 Agustus), sekitar 120 orang umat duduk di halaman gereja, merayakan Ekaristi dengan beratapkan langit.
Di wilayah lain, duka serupa menyapa tiga kapel stasi—Paleng, Wea, dan Ngkodal—yang turut rusak parah hingga tak bisa lagi dipakai memuji Tuhan.
Keganasan gempa itu tidak hanya melukai tempat ibadah, tetapi juga meremukkan ruang-ruang hidup masyarakat. Puluhan rumah warga hancur dan tak lagi layak huni, bahkan beberapa rumah yang baru saja selesai dibangun ikut ambruk rata dengan tanah. Ratusan hunian lainnya mengalami kerusakan ringan hingga berat. Kini, trauma tebal masih menyelimuti udara Watunggong. Di bawah bayang-bayang ketakutan akan rentetan gempa susulan yang terus bergemuruh, umat secara mandiri mendirikan tenda-tenda darurat berbahan seadanya di dekat rumah mereka. Bersyukur, di tengah situasi yang mencekam ini, tidak ada korban jiwa di wilayah Paroki Watunggong. Hanya beberapa warga yang menderita luka ringan, serta seorang ibu lansia dari Kampung Nduri yang harus dirawat akibat patah kaki.
Ketika tanah masih bergetar dan bahaya gempa susulan terus mengintai, pihak Gereja menolak tinggal diam. Tepat sehari pasca gempa, tim Paroki St. Eduardus Watunggong turun demi melihat langsung kondisi umat. Romo Martin Kendo selaku Pastor Paroki meninjau umat di Stasi Wea dan Paleng. Di saat yang sama, Diakon Hendra Kumpul dan Frater Andrew Evaldo bergerak menyusuri lima wilayah di pusat paroki.
Bersama para pengurus stasi, wilayah, dan Kelompok Basis Gerejani (KBG), mereka hadir untuk menyapa umat serta mendata langsung kerusakan rumah warga sebagai bentuk tindakan tanggap bencana yang diinstruksikan oleh Komisi Caritas Keuskupan Ruteng. Sayangnya, pemetaan kerusakan di stasi-stasi lain masih terkendala oleh putusnya jaringan telekomunikasi, namun kerugian materiil ditaksir terus bertambah.
Di tengah kepanikan dan rasa takut warga, denyut nadi pelayanan tetap dijaga oleh para tenaga medis di Rumah Sakit Pratama dan Puskesmas Watunggong. Mereka terus berjuang memberikan pertolongan pertama, meski harus bekerja tanpa gedung fasilitas kesehatan yang ikut retak dan rusak. Namun, sangat disayangkan, perjuangan mandiri umat, pihak gereja, dan tenaga medis ini seolah berjalan sendirian di tengah bencana. Sampai berita ini diturunkan, umat mengeluhkan belum tampaknya kehadiran pemerintah Kecamatan Congkar. Belum ada satu pun posko darurat resmi yang didirikan oleh pemerintah setempat. Bantuan yang diterima berasal dari solidaritas antarumat, melalui keluarga, tetangga, dan KBG.