“Dari ‘Bagaimana Mungkin’ Menuju ‘Terjadilah’: Misa Acies Kuria Watunggong Menggema dalam Semangat Penyerahan Diri”

Suasana khidmat dan penuh devosi menyelimuti Gereja Paroki St. Eduardus Watunggong pada Rabu, 25 Maret 2026 pukul 10.00 WITA, saat Komunitas Legio Maria Kuria Watunggong merayakan Misa Acies.

Dokumentasi Paroki St. Eduardus Watunggong

Watunggong – Suasana khidmat dan penuh devosi menyelimuti Gereja Paroki St. Eduardus Watunggong pada Rabu, 25 Maret 2026 pukul 10.00 WITA, saat Komunitas Legio Maria Kuria Watunggong merayakan Misa Acies. Misa Acies merupakan perayaan tahunan yang sangat penting bagi anggota Legio Maria. Kata Acies berasal dari bahasa Latin yang berarti “barisan tentara dalam kesiapan tempur.” Dalam konteks Legio Maria, Perayaan Acies adalah momen pembaruan janji kesetiaan para legioner kepada Bunda Maria sebagai Ratu mereka, sekaligus penyerahan diri kembali untuk melayani Kristus melalui perantaraan Maria. Perayaan ini bertepatan dengan Hari Raya Kabar Sukacita, sebuah momentum yang sangat bermakna bagi seluruh anggota Legio Maria.

Perayaan Misa Acies Kuria Watunggong ini dipimpin oleh Pastor Paroki St. Eduardus Watunggung, RD. Martinus Gunardi Kendo. Misa dihadiri oleh seluruh anggota Kuria Legio Maria Watunggong yang meliputi anggota Legio Maria Presidium Watunggong, Presidium Ntaram, Presidium Wea, dan Presidium Meni Lontong. Kebersamaan lintas presidium ini semakin mempertegas semangat persaudaraan dan kesatuan dalam pelayanan.

Dalam khotbahnya yang mendalam dan reflektif, RD. Martinus Gunardi Kendo mengangkat inspirasi dari Injil Lukas 1:26–38 tentang peristiwa Kabar Sukacita. Ia menegaskan bahwa perjumpaan antara Maria dan Malaikat Gabriel bukan sekadar peristiwa biasa, melainkan perjumpaan yang mengubah sejarah dunia.

Secara khusus, RD. Martin menyoroti iman Maria yang luar biasa. Kala Malaikat Gabriel menyampaikan pesan Tuhan, Maria bertanya "Bagaimana mungkin hal itu terjadi?" Pertanyaan ini bukanlah pertanyaan keraguan melaikan pertanyaan iman. Meskipun Malaikat Gabriel kemudian tidak memberikan jawaban serta gambaran yang rinci tentang rencana Allah, Maria pada akhirnya memilih untuk tetap percaya. Ia dengan berani melangkah dalam iman dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada kehendak Tuhan dengan berkata, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.”

Pastor Martin pun mengajak seluruh anggota Legio Maria untuk meneladani sikap iman Maria tersebut dalam kehidupan sehari-hari dan dalam karya pelayanan mereka. Di akhir khotbahnya, ia menyampaikan pesan yang menggugah:

“Ikutilah Maria: dari kebingungan menuju kepercayaan; dari pertanyaan menuju penyerahan; dan dari ‘bagaimana mungkin’ menuju ‘terjadilah padaku’. Semoga dalam perayaan Acies ini, kita semua diperbarui dalam semangat: iman yang bertanya, tetapi akhirnya berserah sepenuhnya. Dan bersama Maria, kita berkata: ‘Ya Tuhan, pakailah aku.’”

Perayaan Misa Acies ini menjadi momen pembaruan iman dan komitmen bagi seluruh legioner untuk terus setia dalam pelayanan. Dalam semangat Maria, mereka dipanggil untuk melangkah dengan iman, meski dalam keterbatasan, serta menyerahkan diri sepenuhnya dalam karya penyelamatan Allah.

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
LINK TERKAIT