
Umat Paroki St. Eduardus Watunggong merayakan Ekaristi Minggu Biasa XXI di halaman gedung gereja paroki, dipimpin oleh RD Martin Kendo dengan pengkhotbah Diakon Hendra Kumpul.
Umat Paroki St. Eduardus Watunggong merayakan Ekaristi hari Minggu di halaman gedung gereja.
Watunggong - 24 Agustus 2026 - Ketika bumi Flores masih menyimpan getar dan dinding-dinding
gereja tak lagi menjadi tempat bernaung yang aman, umat Paroki Santo Eduardus
Watunggong membuktikan satu hal mutlak: Gereja yang sejati bukanlah susunan
batu dan semen, melainkan persekutuan umat yang bernapas dan berpengharapan.
Pada perayaan
Minggu Biasa XXI (23/8), Misa Kudus dilangsungkan di bawah atap langit, tepat
di pelataran depan gereja. Keputusan ini merupakan langkah ketaatan pastoral
atas imbauan Uskup Ruteng guna mengantisipasi ancaman gempa susulan yang masih
membayangi. Namun, di balik tenda-tenda darurat dan kebersahajaan tata altar,
tersimpan keagungan iman yang tak ikut runtuh.
Misa yang dipimpin oleh Pastor Paroki, RD Martin Kendo, bersama Diakon Hendra Kumpul ini, terasa begitu syahdu dan kontemplatif. Dalam khotbahnya yang terinspirasi dari kisah pengakuan iman Petrus dalam Injil Matius, Diakon Hendra mengajak umat untuk menukik pada pertanyaan eksistensial: "Siapakah Yesus bagiku di tengah situasi bencana ini?" Diakon Hendra merajut makna penderitaan dengan fondasi iman. Jika gempa meretakkan pilar-pilar beton fisik, pengakuan iman Petrus justru harus menjadi "batu karang" rohani yang tak tertembus bencana. Batu-batu hidup itu kini mewujud nyata dalam diri para relawan dan donatur yang tanpa pamrih mengulurkan tangan. Bagi Gereja, mereka bukan sekadar pemberi bantuan, melainkan sakramen kehadiran Allah yang membalut luka sesama.
Meski demikian,
cinta kasih Kristiani menuntut lebih dari sekadar rasa syukur. Pada penghujung
perayaan Ekaristi, RD Martin Kendo menggarisbawahi pentingnya kedewasaan rohani
dalam menyikapi penyaluran bantuan Gereja. Mengingat keterbatasan logistik, Pastor
Paroki meminta umat untuk memiliki kebesaran hati. Solidaritas sejati menuntut
kita untuk menekan ego dan menajamkan mata hati kepada mereka yang salibnya
jauh lebih berat. Di tengah kelangkaan, menahan diri kita demi sesama yang
kehilangan seluruh rumahnya adalah bentuk nyata dari pengosongan diri yang
diajarkan Kristus. Bantuan adalah anugerah kesukarelaan, bukan sebuah hak yang
layak dituntut dengan amarah.
Lebih lanjut, dengan
nada yang tenang namun memuat ketegasan profetik, RD Martin menyampaikan
penyesalan mendalam atas beredarnya pamflet digital (flyer) "open
donasi" yang mengatasnamakan Paroki Watunggong. Penggalangan dana yang
diinisiasi oleh segelintir pihak tanpa restu dan izin otoritas paroki ini
dinilai sebagai manuver yang sangat mencederai integritas komunal. Segala
bentuk penggalangan dana liar, apa pun dalihnya, bukanlah cerminan wajah
Kristus yang menderita, melainkan wujud oportunisme yang mencari kesempatan di
dalam kesempitan. Pihak paroki memperingatkan agar praktik tidak etis yang
menunggangi nama baik Gereja ini segera dihentikan, karena ia menodai ketulusan
kasih yang sedang kita bangun bersama.
Pada akhirnya, Perayaan
Ekaristi hari Minggu di pelataran terbuka ini menjadi sebuah sekolah pemurnian
batin. Umat Paroki Watunggong diajak untuk tidak hanya mendaraskan doa, tetapi
juga membangun kembali ketulusan hati yang mungkin sempat terkoyak oleh
kepanikan. Di bawah langit Watunggong, di atas tanah yang masih rawan,
benih-benih iman yang murni itu kembali disemai—tabah dalam penderitaan, tulus
dalam berbagi, dan teguh menjaga persekutuan.