Bantang Cama Reje Lele: Menjadi Jembatan Kasih di tengah Getaran Gempa

Paroki St. Eduardus Watunggong kembali menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada umat penyintas gempa bumi, khususnya di wilayah Stasi Wangkar, Ngkolong, dan Ngkodal.

Penyerahan bantuan oleh pihak Paroki St. Eduardus Watunggong kepada umat penyintas gempa bumi.

Watunggong - 24 Agustus 2026 - Senyum syukur kembali merekah di wajah umat Paroki St. Eduardus Watunggong. Pada Senin (24/8/2026), pihak paroki kembali mendistribusikan 82 paket sembako bagi umat yang terdampak gempa bumi Flores pada 15 Agustus lalu. Distribusi kali ini menyasar wilayah yang pada gelombang sebelumnya belum tersentuh bantuan, yakni Stasi Wangkar, Ngkolong, dan Ngkodal.


Paket bantuan ini merupakan buah kasih dari para Suster Ursulin dan sejumlah donatur—termasuk tim media Floresa—yang logistiknya telah diterima paroki pada Kamis pekan lalu. Untuk memastikan pemerataan dan keadilan, penyaluran difokuskan pada posko-posko mandiri yang didirikan oleh umat di ketiga stasi tersebut. Keberadaan posko ini tidak hanya memudahkan koordinasi, tetapi juga menjamin agar bantuan sungguh tepat sasaran. Di Stasi Wangkar, 22 paket bantuan diserahkan dan diterima secara simbolis oleh Ketua Dewan Stasi. Sementara itu, 28 paket di Stasi Ngkolong diserahkan langsung kepada para penyintas yang rumahnya mengalami kerusakan cukup berat. Adapun di Stasi Ngkodal, sebanyak 30 paket sembako juga diserahkan secara simbolis kepada Ketua Dewan Stasi dan beberapa perwakilan keluarga terdampak.


Kelancaran aksi karitatif ini tentu tidak lepas dari dedikasi tim relawan paroki yang turun langsung menembus medan pasca-bencana. Tim ini dipimpin langsung oleh Pastor Paroki, RD Martin Kendo, serta didukung penuh oleh keterlibatan aktif para tokoh awam, yakni Bpk. Iren selaku perwakilan Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan Bpk. Brian dari Dewan Keuangan Paroki (DKP), beserta Fr. Andre. Keterlibatan Bpk. Brian yang juga bertindak sebagai pengemudi sangat krusial dalam menjamin mobilitas tim penyalur. Dedikasi mereka adalah wujud nyata dari panggilan kaum awam untuk ikut serta dalam tugas penyebarluasan Kerajaan Allah di tengah dunia.


Pada setiap titik penyerahan, RD Martin Kendo senantiasa memberikan peneguhan pastoral. Beliau menegaskan bahwa bantuan ini adalah murni manifestasi dari kemurahan hati Tuhan yang bekerja melalui tangan-tangan "orang Samaria yang baik hati", sekaligus mengajak umat untuk berdoa agar semakin banyak pihak yang hatinya terketuk untuk berbagi kepada sesama kita yang masih membutuhkan di momen pasca gempa ini.


Ada sebuah peristiwa reflektif yang sangat menyentuh ketika rombongan tiba di Stasi Ngkodal. Di sana, umat tampak sedang bergotong royong merapikan puing-puing sebuah rumah yang runtuh tepat di depan kapel Stasi. Pemandangan ini menggemakan kembali filosofi luhur orang Manggarai: "Bantang cama reje lele, nai ca anggit tuka ca leleng" (bersatu padu, seia sekata dalam menanggung suka dan duka). Nilai kultural yang indah ini sesungguhnya bernapas dalam nuansa Kekristenan, yakni semangat saling menanggung beban sebagaimana diamanatkan oleh Rasul Paulus (Galatia 6:2). Reruntuhan fisik akibat gempa mungkin meluluhlantakkan bangunan rumah, tetapi peristiwa ini membuktikan satu hal: justru di atas puing-puing itulah, fondasi persaudaraan, solidaritas, dan belarasa umat Paroki Watunggong sedang diuji dan dibangun kembali menjadi semakin kokoh.

LINK TERKAIT