Pelatihan dan Simulasi Penanganan Bencana : Memperkuat Kesiapsiagaan Relawan Caritas di Lima Paroki

Pelatihan ini bukan sekadar kegiatan belajar, melainkan persiapan nyata bagi para relawan Caritas yang akan ditempatkan di setiap paroki. Dengan bekal pemahaman tentang hakikat bencana, prinsip keadilan dalam pemberian bantuan, keterampilan pengambilan data, serta empati yang mendalam terhadap para korban, diharapkan kehadiran para relawan dapat membawa harapan dan pertolongan yang nyata bagi masyarakat yang sedang berduka dan membutuhkan.

Kegiatan pelatihan, pembekalan dan simulasi relawan Caritas Keuskupan Ruteng untuk lima Paroki terdampak

WATUNGGONG — Dalam upaya memperkuat kesiapsiagaan dan kemampuan merespons bencana, khususnya pasca gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores, Caritas Keuskupan Ruteng mengadakan pelatihan dan simulasi penanganan bencana bagi para relawan dari lima paroki di wilayah terdampak. Kegiatan ini menjadi langkah penting agar bantuan yang disalurkan benar-benar tepat sasaran dan sesuai kebutuhan setiap warga.

Kegiatan ini berlangsung di Pastoran Paroki St. Eduardus Watunggong pada hari Minggu, (30/8) yang dihadiri dan dipimpin oleh Tim Caritas Keuskupan Ruteng, di antaranya Bapak Salomo Marbun yang mewakili Caritas Indonesia (KWI), serta Bapak Fredi Judin selaku Koordinator Umum Tim Asesmen Penanganan Bencana Keuskupan Ruteng. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP), Bapak Ignatius Randus. 

Para peserta merupakan utusan dari 5 Paroki yang terdampak bencana gempa bumi, yaitu:

1. ✅ Paroki St. Eduardus Watunggong

2. ✅ Paroki St. Petrus Colol

3. ✅ Paroki St. Theresia Longko Ajang

4. ✅ Paroki St. Ambrosius Mombok

5. ✅ Paroki St. Yohanes Pemandi Elar

Masing-masing paroki mengirimkan 6 orang utusan yang akan bertugas sebagai relawan Caritas di wilayahnya masing-masing.

Salah satu pesan utama yang disampaikan dalam kegiatan ini adalah:

"Equal assistance does not always mean identical assistance."

"Bantuan yang adil tidak selalu berarti semua orang menerima barang yang sama, tetapi setiap orang menerima bantuan sesuai kebutuhannya."

Prinsip ini menjadi landasan penting bagi setiap relawan agar dalam mengambil data dan menyalurkan bantuan tidak dilakukan secara seragam, melainkan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan nyata setiap keluarga maupun individu.


Suasana berlangsung hidup, cair dan penuh makna. Para peserta tidak hanya mendengarkan pemaparan tetapi juga diberi kesempatan menempati posisi berbeda: menjadi korban bencana sekaligus menjadi pemimpin yang bertanggung jawab menangani bencana dan para korban.

Melalui simulasi ini, para relawan diajak merasakan langsung bagaimana rasanya menjadi korban yang kehilangan tempat tinggal, barang berharga dan rasa aman — sekaligus memahami tanggung jawab berat dalam memberikan pertolongan.

Pemaparan materi disampaikan dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami, diselingi sesi tanya jawab serta penyampaian ide dan inisiatif sehingga setiap peserta dapat berkontribusi secara aktif dalam merumuskan cara terbaik menghadapi korban bencana.

Dalam pelatihan ini, relawan dibekali pemahaman mendalam tentang hakikat bencana:

"Bencana adalah ancaman dan ancaman berpotensi untuk menghilangkan segala sesuatu."

Dijelaskan pula bahwa bencana adalah peristiwa yang menghambat, menghancurkan, dan menghilangkan banyak hal. Khususnya bencana gempa bumi, dampaknya tidak hanya kerusakan bangunan tetapi juga dapat mengubah warna dan kualitas sumber air, serta menimbulkan berbagai penyakit pada manusia akibat perubahan lingkungan.


Selain pemahaman rohani dan sosial, para relawan juga dilatih keterampilan praktis, terutama pengisian data warga terdampak. Relawan Caritas dibekali strategi dan tata cara pengambilan data yang akurat serta kajian kebutuhan di wilayah dan korban terdampak gempa. Data yang terkumpul menjadi dasar utama agar bantuan disalurkan dengan tepat sasaran.

Pelatihan ini bukan sekadar kegiatan belajar, melainkan persiapan nyata bagi para relawan Caritas yang akan ditempatkan di setiap paroki. Dengan bekal pemahaman tentang hakikat bencana, prinsip keadilan dalam pemberian bantuan, keterampilan pengambilan data serta empati yang mendalam terhadap para korban. Diharapkan kehadiran para relawan dapat membawa harapan dan pertolongan yang nyata bagi masyarakat yang sedang berduka dan membutuhkan.

Semoga langkah kecil ini menjadi berkat bagi Flores, khususnya bagi saudara-saudara kita di wilayah Watunggong, Satar Nawang, dan seluruh wilayah Manggarai Timur yang sedang berjuang bangkit pasca gempa.***

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
LINK TERKAIT