
Betapa sakralnya roti yang dipecah-pecahkan pada saat misa Kudus yang dirayakan setiap hari karena pada waktu dan moment itu Tuhan benar-benar hadir menjelmakan diriNya sebagai makanan yang diberikan bagi manusia sebagai santapan kehidupan, santapan Kudus yang abadi, tak bernoda dan berdaya menyelamatkan. Maka ketika itu, umat yang hadir sebaiknya memberi sikap terbaik untuk menghormati yakni menyembah-Nya.
Perayaan Ekaristi Inkulturasi dilaksanakan di gendang Ntungal Watunggong Congkar-Manggarai Timur NTT sekaligus misa syukur panen yang didahului dengan ritus adat tanam benih simbolis yang sudah dilumuri darah hewan yakni kambing dan babi dengan maksud agar benih yang ditanam dan ketika tumbuh nanti tidak diserang hama.
Patung bunda Maria yang ada di halaman Puspas Ruteng tetap berdiri kokoh di tengah reruntuhan gua yang terjadi akibat badai hujan yang turun deras beberapa hari terakhir. Hal tersebut merupakan sebuah peristiwa iman yang kiranya semakin meneguhkan serta membakar semangat untuk semakin beriman kepada Tuhan dan terus mencintai bunda Maria yang telah diserahkan oleh Yesus menjadi bunda kita, bunda Gereja dan bunda segala bangsa.
Gedung serbaguna atau aula merupakan salah satu penunjang bagi kegiatan-kegiatan Gereja serta hajatan-hajatan lain yang membutuhkan tempat luas, aman dan bersih. Paroki St Eduardus Watunggong Congkar-Manggarai Timur NTT juga sedang melakukan proses pembangunan gedung yang selama ini telah direncanakan dan diimpikan oleh seluruh umat sebagai bentuk dari proses membangun Paroki.
Orang Muda Katolik St Eduardus Watunggong Congkar-Manggarai Timur, NTT sukses menampilkan tarian yang disadur dari budaya Irong Ngerit (puasa adat) yang dilakukan setiap tahun di gendang Ntungal Kelok Watunggong dan Wea sebagai langkah awal memasuki musim tanam dalam beragam ritus yang penuh dengan kesakralan nilai-nilai luhur warisan tak ternilai dari para pendahulu.
Orang Muda Katolik (OMK) St Eduardus Watunggong Congkar-Manggarai Timur, NTT mengikuti karnaval budaya pada Festival Lembah Sanpio Kisol 2025 dengan mengenakan busana khas Congkar yakni perpaduan sarung punca titi dan selendang leros dengan baju neni serta retu yang memberi warna tersendiri bagi pelaksanaan kegiatan karnaval.
Orang Muda Katolik (OMK) St. Eduardus hadir pada Festival Lembah Sanpio Kisol 2025 dengan persiapan dan armada penuh sambil membawa produk-produk olahan tangan yang menarik dan menggugah selera untuk menikmatinya. Produk-produk yang dijajakan tersebut dibumbui dengan pelayanan dan senyuman indah para pelayannya.
Festival Lembah Sanpio Kisol 2025 kali ini bertepatan dengan tujuh puluh tahun Seminari St Pius XII..Seluruh siswa dan orang tua seminari serta alumnus diundang untuk hadir pada festival tersebut sebagai bentuk dukungan dan ungkapan rasa syukur atas perjalanan seminari serta menyaksikan seluruh proses Festival.