
Sebagaimana Yesus dapat menenangkan gelora badai yang mengancam perahu para rasul, Yesus pasti juga dapat mengatasi badai godaan yang muncul dari dalam diri kita.
Yesus pun mengundang kita untuk menjadi seperti biji sesawi. Menjadi seperti biji sesawi berarti menjadi pribadi yang menyadari kesederhanaan diri dan senantiasa mengandalkan Tuhan.
Jika kita mendengarkan Dia dengan pikiran dan hati yang terbuka serta berjalan dalam Terang-Nya, benih iman dan relasi tersebuh akan semakin bertumbuh dengan baik.
Perumpamaan ini dimaksudkan agar para pendengar Yesus senantiasa menaruh perhatian terhadap Sabda Allah dan agar para murid tetap mempercayai pengajaran Yesus di tengah banyaknya orang yang mulai menentang ajaran Yesus. Yesus mau agar kita menjadi “tanah baik” yang selalu membuka diri terhadap benih sabda dan melaksanakannya dalam kehidupan nyata.
Orang yang menyambut Tuhan ialah mereka memperhatikan tanggung jawabnya untuk menghormati sesama dan membagikan kasih. Dengan demikian, ia pun akan menjadi bagian dari keluarga Kerajaan Allah.
Kebersamaan yang baik dibangun di atas jalinan komunikasi yang sehat, kesediaan untuk saling mendengarkan dan memahami, keberanian untuk memperbaiki dan kerendahan hati untuk menerima koreksi, serta keberpihakan pada kebenaran dan keadilan.
Yesus, Sang Terang Sejati, pun mengundang kita untuk datang dan selalu dekat dengan-Nya. Yesus juga mau agar kita dapat meneladani Dia dan menjadi terang bagi sesama.
Pengalaman salah dimengerti, gagal dipahami, dan ditolak hendaknya tidak membuat kita berhenti untuk berbuat baik. Selama kita tulus dan setia pada kebaikan, Tuhan – Sang Sumber Segala Kebaikan – akan menudungi kita dengan belas kasih-Nya.