
Semakin sederhana situasi yang kita alami, semakin kita harus berjuang untuk menemukan Tuhan di dalamnya. Ketika kita mampu menyadari kehadiran-Nya itu, kita akan disembuhkan dari kebutaan rohani kita.
(Retrieved from https://en.wikipedia.org/wiki/Healing_the_man_blind_from_birth)
Hari Minggu
Prapaskah IV
Minggu, 15 Maret 2026
Bacaan:
1 Sam. 16:1b.6-7.10-13a
Mzm. 23:1-3a.3b-4.5.6
Ef. 5:8-14
Yoh. 9:1-41
“Menyembuhkan
Kebutaan Rohani”
Sobat-sobat Gaung yang terkasih
Penginjil Yohanes menarasikan
mukjizat penyembuhan seorang yang buta sejak lahir. Uniknya, Penginjil Yohanes
tidak membeberkan sama sekali identitas pribadi yang kebutaannya disembuhkan oleh
Yesus ini. Kita sama sekali tidak mengetahui namanya.
Hal ini tentunya sengaja
dilakukan oleh Yohanes agar para pembaca bisa mengidentifikasikan diri dengan
orang buta tersebut. Yohanes menyadari para pembaca atau penyimak sabda bisa
saja memiliki mata yang sehat secara fisik. Namun, itu tidak lalu mata mereka
sehat secara rohani atau spiritual.
Kebutaan tidak saja mencakup
kebutaan fisik tetapi juga kebutaan rohani. Kebutaan rohani terjadi kala kita
tidak mampu melihat Tuhan yang senantiasa ada dan setia bersama kita. Kebutaan
rohani terjadi kala kita berusaha mencari Tuhan hanya dalam peristiwa luar biasa dan
lupa bahwa Tuhan sering kali berkarya melalui hal-hal yang sifatnya kecil dan
sederhana.
Tuhan sering kali bekerja
melalui hal-hal yang kelihatannya biasa dan remeh. Dalam injil, hal ini
ditampilkan secara simbolik oleh Yohanes dalam adegan ketika Yesus menggunakan
ludahnya dan lumpur untuk menyembuhkan mata dari si buta. Yesus menggunakan hal
yang sangat biasa - ludah dan lumpur - untuk mewujudkan karya ilahi-Nya.
Kisah ini adalah undangan bagi
kita untuk menemukan Tuhan dalam keseharian yang biasa dan sederhana. Semakin
sederhana situasi yang kita alami, kita harus semakin berjuang untuk menemukan
Tuhan di dalamnya. Ketika kita mampu menyadari kehadiran-Nya itu, kita akan
disembuhkan dari kebutaan rohani kita.