Transformasi

Prapaskah adalah kesempatan bagi transformasi atau perubahan ke arah yang lebih baik. Ia menjadi momen dalamnya kita mengarahkan diri pada suatu hidup yang lebih bermakna dan bermartabat.

(Retrieved from https://katolisitas.org/transfigurasi-oasis-di-padang-gurun-kehidupan-menuju-ke-tanah-terjanji)

Hari Minggu Prapaskah II

Minggu, 1 Maret 2026

Bacaan:

Kej. 12:1-4a

Mzm. 33:4-5.18-19.20.22

2 Tim. 1:8b-10

Mat.17:1-9

“Transformasi”

Sobat-sobat Gaung yang terkasih

Prapaskah adalah kesempatan bagi transformasi atau perubahan ke arah yang lebih baik. Ia menjadi momen dalamnya kita mengarahkan diri pada suatu pola hidup yang lebih bermartabat. Dalam bacaan-bacaan hari ini, transformasi itu merujuk pada hal-hal berikut ini.

Pertama, fokus pada yang ilahi ketimbang yang insani. Bacaan Injil mengisahkan peristiwa transfigurasi Yesus di atas  Gunung Tabor. Wajah dan pakaian-Nya berubah terang dan agung. Dengan itu, Yesus menunjukkan jati diri-Nya sebagai Tuhan yang berkuasa atas langit dan bumi. Yesus pun mengajak kita untuk memandang Dia sebagai Allah dan menaruh harapan kita kepada-Nya. Dengan kata lain, kita diajak untuk tidak hanya boleh bergantung pada hal-hal insani tetapi juga lebih berpaut pada Kuasa Ilahi. Kita tidak boleh melulu mengandalkan kekuatan diri sendiri tetapi selalu menempatkan Tuhan sebagai garda terdepan dan penopang utama hidup kita.

Kedua, ketekunan dalam hal-hal baik. Perikop bacaan kedua hari ini yang diambil dari Surat Paulus kepada Timotius diberi judul “Ucapan Syukur dan Nasihat untuk bertekun”. Paulus mengingatkan kita akan Yesus yang menderita demi penyucian dan penyelamatan kita. Karena Kristus sudah menyucikan kita, maka kita perlu menjaga kesucian itu dengan senantiasa bersyukur atas hidup kita dan terus bertekun dalam melakukan hal-hal baik. St. Yohanes Maria Vianney, Santo Pelindung Para Imam, pernah mengatakan, “Orang Kudus tidak selalu memulai dengan baik, tetapi pasti akan mengakhiri dengan baik.” Seperti Paulus, kita tentunya tidak selalu memiliki masa lalu yang baik. Beberapa di antara kita mungkin punya masa lalu yang amat kelam dan gelap. Jangan cemas dan takut. Sebab belas kasih Allah sudah dan akan selalu melampaui kelemahan manusiawi. Tuhan tidak memusatkan pandangannya pada kelemahan kita. Ia lebih suka melihat potensi kita untuk menjadi baik.

Ketiga, keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Hal ini dapat kita temukan dari pribadi Abraham yang dikisahkan dalam bacaan pertama hari ini. Abraham dipanggil keluar untuk, meninggalkan sanak saudaranya, orangtuanya, dan tempat kelahirannya yang makmur. Abraham ditarik keluar meninggalkan zona nyaman menuju tanah asing yang keberadaannya tidak diketahui dan jaminan kesejahteraannya tidak pasti. Ini adalah panggilan untuk ketaatan mutlak, meninggalkan rasa aman manusiawi untuk hidup sepenuhnya bersandar pada janji Allah. Sebagaimana Abraham, kita juga dipanggil keluar dari “zona nyaman” kita masing-masing. Kita diajak untuk meninggalkan cara hidup lama - yang jauh dari Tuhan, yang merugikan sesama dan alam- dan memeluk cara hidup baru yang berguna bagi diri kita dan sesama.

#inspirasi
SHARE :
Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
LINK TERKAIT