
Tolok ukur Allah berbeda dengan kita. Bila kita lebih banyak menilai berdasarkan status sosial, Allah menilai kita berdasarkan status iman kita.
(Retrieved from https://standtojesus.me/home/yesus-ditolak-di-nazareth-yesus-mengutus-dua-belas-rasul)
Hari Biasa Pekan
Biasa IV
Rabu, 4 Februari 2026
Bacaan:
2 Sam. 24:2.9-17;
Mzm. 32:1-2.5-7;
Mrk. 6:1-6
Status Iman,
bukan Status Sosial
Sobat-sobat Gaung yang terkasih
Injil hari ini menggambarkan cemoohan yang didapatkan
Yesus saat mulai mengajar di Sinagoga Nazaret. Orang-orang Nazaret sangat ingin
melihat Yesus, yang dulunya seorang
tukang kayu, memberikan pengajaran dan melakukan mukjizat. Namun, mereka juga
sebenarnya merasa iri dan kurang percaya dengan Yesus. Mereka tidak bisa
menerima Yesus yang berasal dari latar belakang keluarga dengan status sosial yang
rendah. Karena ketidakpercayaan dan rasa iri hati ini, Yesus tidak melakukan
mukjizat penyembuhan di Nazaret.
Pengalaman yang terjadi pada Yesus bisa jadi merupakan
representasi dari pengalaman nyata-harian kita. Karena berasal dari keluarga yang
kurang terpandang, kita bisa saja dipandang sepele dan tidak diperhitungkan.
Bisa pula terjadi, kitalah yang justru merendahkan atau meremehkan orang lain
karena latar belakang sosial mereka.
Dari pengalaman Yesus, kita belajar dan paham bahwa
Allah tidak pernah memandang status sosial. Ia tidak hanya bekerja melalui
orang luar biasa tetapi bisa berkarya melalui orang-orang kecil dan sederhana. Tolok
ukur Allah berbeda dengan takaran penilaian kita. Bila kita lebih banyak menilai berdasarkan
status sosial, Allah menilai kita berdasarkan status iman kita. Semakin besar
iman kita, semakin besar pula Ia membuka rahmat-Nya bagi kita. Bila pengharapan
kita besar, maka kerahiman-Nya kepada kita akan tiada terbatas.