
Kelebihan serta keberhasilan orang lain seyogianya diapresiasi dan dijadikan contoh untuk belajar. Sayangnya, hal baik serupa itu tidak selalu mengundang decak kagum dan melahirkan motivasi.
(Retrieved from https://sangsabda.wordpress.com/2018/01/17/kecemburuan-raja-saul-mencerminkan-ketidakpercayaannya-kepada-allah)
Kamis, 22 Januari 2026
Bacaan:
1 Sam. 18:6-9; 19:1-7;
Mzm. 56:2-3.9-10a.10bc-13;
Mrk. 3:7-12
Sakit Iri Hati
Sobat-sobat Gaung yang terkasih
Kelebihan serta keberhasilan orang lain seyogianya diapresiasi dan dijadikan contoh untuk belajar. Sayangnya, hal baik serupa itu tidak selalu mengundang decak kagum dan melahirkan motivasi. Bagi sebagian orang tertentu, hal-hal positif pada sesama justru menimbulkan sakit hati dan memupuk cemburu. Alhasil, orang lain pun dilihat mereka ini sebagai saingan yang perlu disingkirkan bahkan mungkin musuh yang harus dihilangkan.
Hal seperti inilah yang dialami oleh Saul saat orang-orang Israel memuji Daud yang berhasil mengalahkan Goliat. Bukannya bersyukur pada Tuhan dan berterima kasih pada Daud, Saul justru menjadi iri hati dan menginginkan Daud mati. Setelah dinasihati anaknya – Yonatan – barulah Saul sadar.
Kita pun bisa saja menjadi seperti Saul yang iri hati dan cemburu dengan kesejahteraan orang lain. Oleh karena itu, mari kita mohon Tuhan untuk menyembuhkan sakit iri hati yang bisa saja bercokol dalam diri kita. Sebagaimana Yesus dulu sudah memulihkan banyak penyakit dan mengusir iblis, Tuhan Yesus juga pasti mampu membantu kita untuk membendung perasaan iri hati kita pada orang lain.
Mari kita juga belajar menjadi seperti Yonatan. Yonatan adalah anak kandung Saul yang seharusnya menjadi raja setelah Saul. Namun, Yonatan tidak iri pada Daud. Dia justru membela Daud dan menyurutkan amarah Saul atas Daud. Semoga kita dapat meneladani kedewasaan Yonatan yang berani meninggalkan ego dalam diri dan mau mengakui kelebihan orang lain.