
Melalui kisah panggilan Matius, Tuhan mengingatkan kita bahwa Dia tidak menghakimi kita dan keadaan kita. Selama kita mau berubah, Dia selalu siap menyambut kehadiran kita dengan keterbukaan dan kerinduan yang tulus. Walaupun kita kurang dan lemah, Dia tetap mau menggunakan kita untuk mewartakan kebaikan-Nya kepada dunia.
(Retrieved from https://catatanseorangofs.wordpress.com/tag/panggilan-matius)
Peringatan Wajib
Santo Antonius, Abas
Sabtu, 17 Januari
2026
Bacaan:
1 Sam. 9:1-4.17-19;
10:1a;
Mzm. 21:2-7;
Mrk. 2:13-17
Panggilan Tuhan
Sobat-sobat Gaung yang terkasih
Bacaan-bacaan hari ini bertemakan panggilan. Dalam
bacaan pertama dikisahkan tentang panggilan Saul menjadi raja pertama atas
Israel. Sementara itu, episode Injil hari ini menghidangkan kisah tentang
panggilan kemuridan Matius – sang pemungut cukai. Dari penampilannya, Saul
digambarkan dengan karakter dan perawakan yang memang cocok untuk seorang raja.
Saul adalah “seorang muda yang elok rupanya; tidak ada seorang pun dari antara
orang Israel yang lebih elok dari padanya: ia lebih tinggi dari pada setiap
orang sebangsanya dari bahu ke atas”. Berbeda dengan Saul, Matius sama sekali
tidak punya kriteria – sesuai standar umum pada zaman itu - yang memungkinkannya untuk menjadi murid
Tuhan. Matius sendiri adalah pemungut cukai. Ia sudah pasti dibenci dan
diasingkan oleh orang Yahudi karena bekerja memungut pajak demi kepentingan
bangsa penjajah. Walaupun demikian, keadaan itu tidak menjadi halangan bagi
Yesus untuk menyapa dan merangkul Matius. Yesus mampu melihat dalam diri Matius
seorang pribadi yang membutuhkan cinta dan rahmat ilahi. Ketika orang lain
membenci Matius, Yesus telah siap untuk menawarkan dia cinta, belas kasih, dan
pengampunan. Matius segera merespon undangan Yesus dengan meninggalkan
pekerjaannya.
Sebagaimana Matius, kita saat ini mungkin berada dalam
situasi dibenci dan diasingkan karena dosa masa lalu kita. Karena malu dengan
dosa itu, kita sering menarik diri dari kebersamaan dan dari Tuhan. Melalui
kisah panggilan Matius, Tuhan mengingatkan kita bahwa Dia tidak menghakimi kita
dan keadaan kita. Selama kita mau berubah, Dia selalu siap menyambut kehadiran
kita dengan keterbukaan dan kerinduan yang tulus. Walaupun kita kurang dan lemah,
Dia tetap mau menggunakan kita untuk mewartakan kebaikan-Nya kepada dunia.
Mari berdoa agar kita dapat menjadi seperti Matius, yang tanpa menunda-nunda, segera merespon panggilan-Nya. Mari kita juga berdoa agar kita senantiasa meneladani Yesus yang mampu merangkul mereka yang diasingkan; mencintai mereka yang tidak bisa dicintai; dan memaafkan mereka yang tak bisa dimaafkan.