“Merayakan Sinode berarti berjalan di jalan yang sama, berjalan bersama”

Semoga sebagai Gereja yang berjalan bersama dalam semangat sinodalitas, kita sungguh menjadi umat yang beriman teguh, bersaudara sejati dan misioner yang rendah hati, sehingga lewat hidup kita, dunia dapat merasakan kehadiran Kerajaan Allah.

Dokumentasi Paroki St. Eduardus Watunggong

Hari Minggu Biasa IV

(Misa Launching Sinode IV Paroki St. Eduardus Watunggong)

Minggu, 1 Februari  2026

Bacaan:

Zef. 2:3; 3:12-13;

Mzm. 146:7.8-9a.9bc-10;

1 Kor. 1:26-31

Mat. 5:1-12a

Sobat-sobat Gaung yang terkasih

“Merayakan Sinode berarti berjalan di jalan yang sama, berjalan bersama”, demikian kotbah Sinode Paus Fransiskus di Vatikan, 10 Oktober 2021. Mengutip Sinode IV Keuskupan Ruteng, tahun 2026 ini merupakan saat kita “jalan bersama” di dalam Kristus sebab Dialah jalan, kebenaran dan hidup. Seperti dahulu Dia berjalan bersama para rasul berkeliling sambil berbuat baik di wilayah Galilea menuju Yerusalem, demikian pula kita sebagai umat Allah Keuskupan Ruteng meyakini kehadiran Kristus Yesus dalam ziarah bersama di tanah Nucalale ini dan di tanah Congkar ini menuju Yerusalem Surgawi. Dalam peziarahan inilah kita berupaya untuk semakin menjadi anggota tubuh Kristus yang kudus dan menjadi persekutuan umat Allah yg mesra.

Menjadi anggota Gereja atau tubuh Kristus yang kudus dan persekutuan umat Allah yg mesra tentu tidak terbatas pada cara kerja tetapi juga pada cara hidup sebagai bentuk penghayatan akan sinodalitas yang konkret dan konsisten dalam seluruh perjalanan hidup kita. Sinodalitas dalam kehidupan berparoki yang selama ini kita lihat dan alami tentunya, muncul dalam bentuk keterlibatan umat dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi program pastoral; kehidupan KBG yang menumbuhkan semangat kebersamaan, solidaritas dan kepedulian; praktik musyawarah dalam pengambilan keputusan; kehadiran pastoral bagi umat kecil, sakit dan rentan; serta upaya transparansi dan pertanggungjawaban dalam tata kelola keuangan paroki.

Praktik ini menunjukkan kepada kita bahwa Gereja lokal Keuskupan Ruteng (dimana kita adalah bagiannya) memiliki fondasi yang nyata untuk terus bertumbuh sebagai Gereja sinodal. Praktik baik inilah yang diharapkan sungguh dihidupi, dirawat dan dikembangkan secara sadar dan berkelanjutan oleh kita semua melalui budaya mendengarkan, keterbukaan terhadap kritik, pembedaan rohani bersama, evaluasi rutin, serta penguatan komunikasi dan kolaborasi di antara kita.

Sinode yang kita jalankan sesungguhnya berakar kuat pada budaya Manggarai dalam konsep salang lako raes (jalan di mana kita menjejakkan kaki bersama dalam persaudaraan). Hal ini tentu disadari bahwa hidup itu adalah sebuah ziarah (salang mose), yang perlu dibekali secara fisik dan spiritual dengan baik (wuat wa’i). Semua rangkaian ziarah perjalanan ini berlangsung dalam rahim persekutuan (tuka wing mose cama). Sebab tidak ada jalan hidup tanpa jejak-jejak kaki bersama (toe manga salang mose eme toe hele lako cama). Oleh karenanya, setiap kita diajak untuk selalu terbuka untuk hidup dalam kebersamaan (neka ro’e salang mose, neka tungga salang duat, neka kepe salang we’e).

Dalam Sinode IV yang kita jalani sepanjang 2026 ini, kita dituntun dan digerakan oleh motto beriman, bersaudara dan misioner.

1)      Beriman

Beriman berarti menumbuhkembangkan kehidupan yang sungguh berakar pada Tuhan. Artinya, iman yang kita miliki haruslah membentuk cara berpikir, bersikap dan bertindak kita sehari-hari. Beriman juga berarti menemukan kekuatan dengan meletakkan seluruh diri di tangan Allah yang adalah setia. Inilah iman sejati dan iman sejati inilah yang menuntun pada kasih karena iman tanpa perbuatan adalah mati. Iman lahir dari kasih Kristus yang memberikan diri-Nya. Demikian pula iman terwujud dalam kasih kepada sesama. Sebab barang siapa mengatakan mengasihi Allah tetapi membenci sesamanya, dia adalah seorang pendusta. Untuk itu, ajaran Paus Fransiskus tentang beriman yang berarti mempercayakan diri pada kasih yang selalu menerima dan mengampuni, yang menopang dan mengarahkan hidup serta yang menunjukkan dayanya untuk meluruskan sejarah yang berliku sekiranya menjadi bagian dari kehidupan iman kita sehari-hari.

2)      Bersaudara

Dari persekutuan dengan Allah, kita dipanggil untuk memperkuat persaudaraan sebagai satu umat Allah. Iman yang sejati selalu melahirkan relasi hidup antarumat yang sehat dan membangun, bukan merusak dan memecah belah. Melalui motto bersaudara, kita diajak untuk semakin terlibat dalam persekutuan kasih Allah Tritunggal dan semakin menjadi saudara bagi yang lain.

            Dalam konteks Keuskupan Ruteng, panggilan untuk hidup bersaudara ini sangat didukung dan diperkaya oleh kearifan budaya Manggarai, yang merumuskan hidup bersama dalam ungkapan nai ca anggit, tuka ca leleng – satu hati, satu jiwa. Hal ini semakin dipertegas dalam motto Bapa Suci Paus Leo XIV – In Illo Uno Unum (Dalam yang Esa, kita adalah satu). Sehingga mewujudkan persaudaraan bukanlah suatu pilihan  melainkan suatu kewajiban dan menjadi panggilan hidup kita orang beriman kristiani.

3)      Misioner

Gereja yang misioner adalah Gereja yang bersaksi tentang kasih Allah. Ungkapan kesaksian itu tidak sebatas pada menjadi Gereja yang hidup dalam “zona nyaman” dan berpuas diri dengan apa yang ada, tetapi ingin terus-menerus dibarui dan dituntun oleh Roh Kudus keluar dari kemapanan dan menjadi saksi-saksi injili.

            Kesaksian pertama-tama tentu terjadi di dalam kehidupan umat itu sendiri seperti, di Paroki, stasi/wilayah, KBG dan terutama dalam keluarga. Di sanalah injil harus pertama-tama dihidupi dan dirasakan. Selain itu, kesaksian juga mesti terarah keluar, ke tengah masyarakat dan dunia seperti hadir di ruang publik, memperjuangkan keadilan, merawat martabat manusia dan menjadi suara bagi mereka yang kecil dan terpinggirkan. Di samping itu bersaksi tentang kasih Allah berarti pula merawat dan melesatarikan ibu bumi, rumah bersama kita. Merusak alam berarti melukai sesama dan mengkhianati Sang Pencipta. Karena itu, kita dipanggil untuk menjadi saksi pertobatan ekologis dalam ziarah bersama kita.

Sabda Tuhan yang telah kita dengar bersama hari ini menghadirkan satu benang merah yang sangat indah, yakni: Allah selalu berpihak kepada yang kecil, rendah hati dan sederhana. Tentu bukan karena mereka lemah, tetapi justru karena disanalah iman yang sejati bertumbuh.

Nabi Zefanya mengajak kita: “Carilah Tuhan, hai semua orang yang rendah hati di negeri”. Allah tidak mencari mereka yang sombong akan kekuatan, status atau kehebatannya. Ia mencari umat yang rendah hati, yang hidup dalam kebenaran dan kejujuran. Bahkan dikatakan, sisa umat itu “tidak melakukan kejahatan dan tidak berkata dusta”. Inilah gambaran komunitas yang beriman dan bersaudara, yakni hidup apa adanya di hadapan Allah dan sesama.

Nada yang sama kita dengar dalam surat Paulus kepada jemaat di Korintus. Paulus mengingatkan bahwa tidak banyak orang bijak, terpandang atau berkuasa yang dipilih Allah. Sebaliknya, Allah memilih yang dianggap bodoh, lemah, dan hina oleh dunia, “supaya tidak ada seorangpun yang memegahkan diri di hadapan Allah”. Iman kristiani bukan soal kebanggaan diri, melainkan bersandar penuh pada rahmat Tuhan.

Kemudian injil Matius hari ini menghadirkan sabda yang sangat terkenal: Sabda Bahagia. Yesus menyebut berbahagia bukan mereka yang kaya dan berkuasa, tetapi yang miskin di hadapan Allah, yang lemah lembut, yang lapar akan kebenaran, yang membawa damai. Ini adalah wajah Kerajaan Allah yang sering bertolak belakang dengan logika dunia.

Apa yg menjadi motto sinode IV tergambar dalam ketiga bacaan tadi. Beriman berarti berani hidup dalam kerendahan hati dengan menyadari bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan, bukan dari kehebatan kita sendiri. Bersaudara berarti membangun komunitas yang jujur, tidak saling menjatuhkan, tidak hidup dalam dusta dan kekerasan. Misioner berarti, membawa semangat Sabda Bahagia ke tengah dunia dengan menjadi pembawa damai, penghibur bagi yg berduka, peneguh bagi yg lemah, dan saksi kasih Kristus lewat hidup sehari-hari. Menjadi misioner tidak selalu berarti pergi jauh. Kadang justru dimulai dari hal yg paling sederhana seperti sikap rendah hati di rumah, kejujuran di tempat kerja, kepedulian kepada yang kecil dan tersingkir, serta keberanian hidup berbeda dari arus dunia.

Dunia mungkin tidak menganggap hidup seperti ini sebagai sesuatu yang berbahagia. Tetapi Yesus berkata sebaliknya: bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga. Semoga sebagai Gereja yang berjalan bersama dalam semangat sinodalitas, kita sungguh menjadi umat yang beriman teguh, bersaudara sejati dan misioner yang rendah hati, sehingga lewat hidup kita, dunia dapat merasakan kehadiran Kerajaan Allah.

#inspirasi
SHARE :
Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
LINK TERKAIT