
Paroki St. Eduardus Watunggong mencanangkan berbagai program dalam masa Prapaskah sebagai bentuk pembinaan iman umat. Program-program tersebut meliputi pelayanan ibadah-sakramental, aksi sosial demi kehidupan bersama, serta pembinaan spiritual melalui kegiatan rekoleksi. Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan tersebut, pada Senin, 2 Maret 2026, dilaksanakan rekoleksi Prapaskah bagi para murid SDK Wea - Watunggong. Kegiatan ini berlangsung di Gereja Paroki St. Eduardus Watunggong dan dihadiri
Dokumentasi Paroki St. Eduardus Watunggong
Paroki St. Eduardus Watunggong mencanangkan berbagai program dalam masa Prapaskah sebagai bentuk pembinaan iman umat. Program-program tersebut meliputi pelayanan ibadah-sakramental, aksi sosial demi kehidupan bersama, serta pembinaan spiritual melalui kegiatan rekoleksi.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan tersebut, pada Senin, 2 Maret 2026, dilaksanakan rekoleksi Prapaskah bagi para murid SDK Wea - Watunggong. Kegiatan ini berlangsung di Gereja Paroki St. Eduardus Watunggong dan dihadiri oleh seluruh murid bersama beberapa guru.
Rekoleksi dipimpin oleh RD. Kiven, Vikaris Parokial Paroki Watunggong. Dalam kesempatan tersebut, ia mengangkat tema “Anak atau Bapa” dengan bertolak dari perikop Perumpamaan tentang Anak yang Hilang (Mat. 15:11-32). Melalui pendalaman Kitab Suci itu, RD. Kiven mengajak para murid untuk melihat kehidupan mereka dari tiga sudut pandang: anak bungsu yang jatuh dalam kesalahan, anak sulung yang merasa paling benar, dan sosok bapa yang penuh belas kasih.
Dalam refleksinya, RD. Kiven menekankan pentingnya menjadikan karakter bapa yang berbelas kasih sebagai patokan dalam berpikir, bertutur, dan bertindak di tengah kehidupan bersama, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah.
Suasana rekoleksi berlangsung santai dan menyenangkan. Para murid tidak hanya duduk mendengarkan ceramah, tetapi juga terlibat aktif melalui yel-yel, permainan, serta menyanyikan lagu-lagu gembira. Partisipasi aktif tersebut membuat kegiatan semakin hidup dan membantu para murid menghayati materi yang disampaikan.
Di akhir kegiatan, RD. Kiven meminta para murid menuliskan pada secarik kertas kecil hal-hal baik yang hendak mereka lakukan setelah mengikuti rekoleksi. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemberian absolusi umum bagi murid kelas I hingga IV, serta pengakuan dosa secara pribadi bagi murid kelas V dan VI.
Melalui rangkaian kegiatan ini, Paroki St. Eduardus Watunggong berharap masa Prapaskah sungguh menjadi waktu pembaruan hidup bagi anak-anak sejak usia dini, sehingga nilai belas kasih dan pertobatan semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari.