Idul Adha dan Tutup Bulan Maria: Merajut Kebersamaan Indah di Halaman Kampung Nelo

Acara yang sarat makna ini ditutup dengan penampilan istimewa di tengah halaman kampung: Tarian Toleransi, yang dibawakan bersama oleh anak-anak dari Masjid Nurul Iman Nelo dan anak-anak dari KBG Cinta Damai. Gerakan yang serasi, wajah yang ceria, dan senyum tulus mereka menjadi penutup paling indah — simbol nyata bahwa di halaman kampung Nelo, persaudaraan melampaui segala perbedaan, dan kebersamaan adalah kekuatan terbesar kita semua.

Foto bersama dalam kegiatan halal bihalal Idul Adha dan penutupan Bulan Maria di kampung Nelo, Kecamatan Congkar Manggarai Timur NTT

Di halaman terbuka kampung Nelo, tepat di halaman kampung Nelo-Ntaram, suasana hangat, bahagia, dan penuh persaudaraan menyelimuti setiap sudut. Di tempat yang terbuka, akrab, dan menjadi jantung kehidupan warga ini, umat Islam dari Masjid Nurul Iman dan umat Katolik dari Kelompok Basis Gereja (KBG) Cinta Damai berkumpul dalam satu momen bersejarah: merayakan Idul Adha sekaligus menutup rangkaian kegiatan Bulan Maria 2026. Sebuah acara unik yang dirancang indah, di mana dua agama berbeda meleburkan kegiatannya dalam satu wadah, di tanah kelahiran dan tempat tinggal mereka sendiri. 

Mereka mengambil tema yang unik dan bermakna mendalam yakni "Merajut Kebersamaan dalam Keberagaman".

Kegiatan yang dilaksanan pada hari Minggu, 31 Mei 2026 ini, bagi Imam Masjid Nurul Iman Nelo-Ntaram, Yusuf Daik, di halaman kampung ini adalah momen yang tak ternilai maknanya. Beliau menyebut acara ini sebagai “malam kemesraan, malam kebahagiaan, dan syukuran besar”.

“Bayangkan, dua agama meleburkan kegiatannya di sini, di halaman kampung kita sendiri. Pemandangan indah dan menyentuh hati terlihat jelas oleh mata kita semua.


Dikatakannya bahwa moment kehadiran kehadiran Yang Mulia Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat, beberapa waktu lalu yang turun langsung ke halaman kampung ini dan hadir di tengah kami, adalah sebuah kunjungan penuh rahmat. Beliau datang melihat langsung keadaan kita — kita yang mungkin dianggap ‘tidak ada apa-apanya’, namun sesungguhnya kita tidak hidup dalam kekurangan, melainkan sangat kaya akan persaudaraan dan kasih sayang,” ujar Yusuf Daik dengan suara bergetar penuh rasa syukur.

Momen kebersamaan di halaman kampung ini juga sangat menyentuh hati Pastor Paroki St. Eduardus Watunggong, RD. Martinus Gunardi Kendo. Beliau mengaku sangat terharu melihat bentuk undangan, konsep acara dan lokasi yang begitu dekat dengan hati masyarakat.

Ia pun menyampaikan ucapan terima kasih yang mendalam kepada seluruh warga dan tamu yang hadir: “Terima kasih atas cinta yang tulus yang kita salurkan satu sama lain, terima kasih atas kerendahan hati kita semua yang menempatkan kesetiaan dan kasih sayang di atas segalanya, di sini, di halaman kampung kita tercinta.”


“Saya datang ke sini dengan hati yang senang dan sangat terharu. Undangan yang dibuat sangat unik, sederhana namun menyentuh, dan saya datang langsung ke ‘pusat hati’ warga Nelo ini. Sebagai informasi, keluarga besar saya dari jalur ibu semuanya beragama Islam, jadi suasana di halaman kampung ini terasa sangat akrab, hangat, dan seperti berkumpul dengan keluarga sendiri. Merupakan kebanggaan besar bagi kami dan seluruh umat Katolik di sini untuk diundang hadir malam ini,” ungkap RD. Martinus.

Beliau kembali mengutip pesan mendalam yang pernah disampaikan Imam Masjid Nurul Iman ketika Uskup Ruteng ke tempat ini: “Keyakinan masing-masing kita harus kita jaga dan kita hormati sepenuhnya. Namun di atas segalanya itu, nilai kemanusiaan jauh lebih penting. Agama tidak pernah diciptakan sebagai senjata untuk menciptakan permusuhan atau perpecahan, melainkan agama adalah sarana utama bagi kita untuk saling bersatu, saling mengasihi, dan saling melengkapi.”

“Terima kasih karena kita semua telah memberikan contoh nyata, tepat di halaman kampung ini — tidak hanya untuk lingkup kecil kampung kita saja, tetapi juga untuk ditunjukkan kepada dunia — bahwa keberagaman adalah kekayaan, bukan ancaman,” tambahnya lagi.

Ketua Pengurus Harian Badan Kerjasama Antar Umat Beragama (PHBI), Yasin Varto, mengemukakan harapan besarnya dari pertemuan bersejarah ini.


“Mungkinkah toleransi yang sejati akan mulai tumbuh, berakar, dan mekar indah dari Nelo, dari halaman kampung ini? Inilah pesan yang ingin kami sampaikan: kita tidak sedang mencampuradukkan ajaran atau keyakinan masing-masing. Sebaliknya, kita belajar memahami batasan, menghargai hak orang lain, dan hidup berdampingan dengan damai. Ajaran agama selalu mengajarkan dua hal utama: perbaikilah hubunganmu dengan Tuhan, dan perbaikilah hubunganmu dengan sesama manusia,” tegas Yasin Varto.

Ia menegaskan bahwa perbedaan keyakinan dan latar belakang bukanlah tembok pemisah, melainkan media dan alat untuk bersatu.

“Di Nelo, tepat di halaman kampung ini, perbedaan itu tidak menjadi jurang pemisah, melainkan dirajut menjadi sebuah pertemuan yang indah, harmonis, dan penuh makna. Nelo, sebuah kampung kecil yang menyimpan berjuta nilai toleransi yang patut dibanggakan,” tambahnya dengan bangga.

Acara yang sarat makna ini ditutup dengan penampilan istimewa di tengah halaman kampung: Tarian Toleransi, yang dibawakan bersama oleh anak-anak dari Masjid Nurul Iman Nelo dan anak-anak dari KBG Cinta Damai. Gerakan yang serasi, wajah yang ceria, dan senyum tulus mereka menjadi penutup paling indah — simbol nyata bahwa di halaman kampung Nelo, persaudaraan melampaui segala perbedaan, dan kebersamaan adalah kekuatan terbesar kita semua.***

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
LINK TERKAIT