
Pengalaman salah dimengerti, gagal dipahami, dan ditolak hendaknya tidak membuat kita berhenti untuk berbuat baik. Selama kita tulus dan setia pada kebaikan, Tuhan – Sang Sumber Segala Kebaikan – akan menudungi kita dengan belas kasih-Nya.
(Retrieved from https://sangsabda.wordpress.com/tag/yesus-tidak-waras)
Peringatan Wajib Santo Fransiskus dari Sales, Uskup dan Pujangga Gereja
Sabtu, 24 Januari 2026
Bacaan:
1 Sam. 1:1-4.11-12.19.23-27;
Mzm. 80:2-3.5-7;
Mrk. 3:20-21
Gagal Paham
Sobat-sobat Gaung yang terkasih
Perikop injil hari ini
merupakan kelanjutan kisah dari perikop tentang pemilihan dan perutusan ke-12
rasul. Dalam perikop tersebut, Penginjil Markus mencatat pengalaman Yesus yang
dicap “tidak waras” dan hendak dibawa pulang oleh kaum keluarganya.
Markus tidak menceritakan secara
detail alasan yang melatarbelakangi tindakan keluarga Yesus tersebut. Tindakan
ini bisa saja terjadi karena Yesus bergaul dengan orang berdosa lalu membentuk
kelompok para rasul yang terdiri dari orang-orang aneh. Keluarga Yesus juga
mungkin bertindak demikian untuk menyelamatkan Yesus yang kala itu sudah sering
berseteru atau bersilang pendapat dengan orang-orang Farisi dan para ahli
taurat yang mengincar-Nya. Singkatnya, tidak ada alasan yang betul pasti.
Terlepas dari itu, pengalaman
Yesus ini menjadi pengingat bagi kita bahwa bahwa niat dan perbuatan baik ternyata
tidak selamanya mendulang sambutan hangat. Niat dan perbuatan baik dapat saja
salah atau gagal dipahami dan dinilai sebagai hal yang tercela. Bahkan, dapat
saja terjadi, kebaikan seseorang sengaja diceritakan dengan “polesan yang buruk”
oleh oknum tertentu agar orang bersangkutan dibenci dan dipandang buruk oleh
sesamanya.
Yesus menerima pengalaman pahit
tersebut sebagai konsekuensi dari karya pewartaan-Nya. Pengalaman itu sendiri
tidak menyurutkan niat Yesus untuk terus berkeliling, berjumpa banyak orang, dan
berbagi rahmat dengan yang membutuhkan.
Kita pun diharapkan demikian.
Pengalaman salah dimengerti, gagal dipahami, dan ditolak hendaknya tidak membuat kita berhenti
untuk berbuat baik. Selama kita tulus dan setia pada kebaikan, Tuhan – Sang
Sumber Segala Kebaikan – akan menudungi kita dengan belas kasih-Nya.