
Kegiatan evaluasi pastoral Ekaristi Transformatif tingkat Kevikepan Reo, Keuskupan Ruteng menjadi Kegiatan akhir dari seluruh perjalanan reksa pastoral yang telah dilaksanakan di seluruh paroki dalam beragam aksi pastoral. Evaluasi ini menjadi moment untuk melihat, menilai dan menatap kembali program pastoral ke depan terutama pada masa sinode empat Keuskupan Ruteng nanti.
Kolase suasana rekoleksi dan misa pembukaan kegiatan Evaluasi Pastoral Tahun Ekaristi Transformatif 2026 tingkat Kevikepan Reo
Tahun Pastoral Ekaristi Transformatif 2025 Keuskupan Rutengvtelah sampai pada penghujung perjalanan.
Pastoral Ekaristi Transformatif menjadi panduan dan tema umum untuk seluruh perjalanan reksa pastoral Keuskupan Ruteng yang diterjemahkan dalak setiap aksi oleh seluruh Paroki.
Pastoral Ekaristi Transformatif merupakan sumber dan puncak kehidupan Gereja dalam tahun ke 10 sinode tiga.
Dalam perjalanannya, pastoral Ekaristi Transformatif selalu diperhatikan agar semaksimal mungkin terlaksana setiap program kerja yang telah dirancang dan direncanakan.
Pelaksanaan reksa pastoral tersebut kemudian dikawal dan terus dilakukan momitoring dan evaluasi berkala yang disponsori dan dikoordinir oleh tim Pusat Pastoral (PUSPAS Keuskupa Ruteng.
Monitoring dan evaluasi dilakukan setiap tiga bulan sekali yang dipresentasekan oleh setiap tim pastoral paroki dalam bentuk tertulis dan video kegiatan.
Kegiatan Evaluasi dilaksanakan per Kevikepan untuk melihat, menilai dan berdiskusi bersama tentang bagaimana perjalanan pelayanan pastoral serta mencari jalan keluar untuk setiap hambatannya.
Di Kevikepan Reo, kegiatan evaluasi terjadi pada tanggal 20 dan 21 Nivember 2025 yang disatukan dengan sosialisasi sinode empat 2026.
Kegiatan evaluasi program pastoral diawali dengan rekoleksi dan misa yang dipimpin oleh RD. Tanto.
Dalam narasinya RD. Tanto menghantar peserta dalam tema umum menepi sejanak dari ritme waktu pelayanan, antara Kronos dan Kairos.
Berbicara tentang bagaimana kita adalah manusia yang bukan superman, pelayanan kadang-kadang terasa menjadi berat karena kelemahan tubuh yang terkuras seiring berjalannya waktu dengan ritme pelayanan yang cukup banyak.
Setiap tahap hidup memiliki berkat dan tantangannya sendiri. Hidup bukan hanya sekedar mengisi waktu tetapi tentang bagaimana menghidupi waktu. Kita tak bisa melawan waktu namun bisa menjalankannya dengan kesadaran dan penuh iman. Ini tentang bagaimana kita menghidupi kronos untuk berjumpa dengan Kairos.
Rekoleksi ini mau mengajak kita menemukan dan Kairos dan menghidup kronos untuk menemukan eskato. Tidak perlu mengeluh soal waktu tetapi harus berani menghidupi waktu untuk merealisasikan setiap program kerja kita. Kadang kita berkegiatan tetapi hati kita tidak ada di sana.
Pertanyaan refleksi untuk direnungkan yakni, adakah bentuk kegiatan rutin yang membuat saya kehilangan semangat dan bagaimana menghidupi kembali agarebih bermakna bagi umat.
Kesadaran akan keterbatasan waktu hidup sering menyita, jika saya hanya diberi waktu lebih singkat lagi satu atau dua hari saja, hal apa yang ingin diperbaiki dalam pelayanan?
Pelayanan pastoral berjalan dalam alur waktu, dalam ritme waktu dengan dinamikanya yang bervariasi. Pelayanan pastoral memang kadang-kadang terasa berat namun semua akan terlaksana baik ketika kita memiliki kesadaran bahwa setiap detik bisa menjadi moment perjumpaan dengan DIiA, dengan Tuhan dalam setiap karya pelayanan pastoral.
Injil (Yesus Kristus) harus tetap menjadi pusat pelayanan kita. Kita harus membuatNya lebih semakin di depan dan tampak bagi semua. Fokus pada Injil dan fokus pada umat.***