
Orang yang tidak mau bertobat akan semakin mengalami kebutaan rohani. Sebaliknya, pertobatan tidak hanya membawa pengampunan, tetapi juga memungkinkan Allah untuk mengubah luka-luka dosa menjadi instrumen kasih karunia.
(Retrieved from https://renunganpdkk.blogspot.com/2015/07/yohanes-pembaptis-dibunuh.html)
Peringatan Wajib St. Paulus Miki, Imam dan Kawan-Kawan Martir
Jumat, 6 Februari 2026
Bacaan:
Sir. 47:2-11
Mzm. 18:31.47.50.51
Mrk. 6:14-29
Daud vs Herodes
Sobat-sobat Gaung yang terkasih
Bacaan-bacaan hari ini menampilkan kepada kita dua
sosok raja dengan karakter yang bertentangan. Dalam bacaan pertama, Penulis
Putra Sirakh menampilkan sosok Raja Daud. Raja Daud dipuji karena kesetiaannya
pada Tuhan dan kerendahan hatinya untuk mengakui kesalahannya.
Raja Herodes Antipas berbeda dengan Raja Daud.
Herodes hanya memikirkan dirinya sendiri. Dia juga tidak peduli pada nasihat
atau masukan dari orang lain. Ketika Yohanes Pembaptis menegurnya karena
berselingkuh dengan istri saudaranya, Herodes malah memenjarakan Yohanes
Pembaptis. Dia memang tahu hal yang disampaikan Yohanes Pembaptis benar. Namun,
karena gengsi dan ego mempertahankan kuasanya sudah kelewat batas, Raja Herodes
mengabaikan kebenaran dan keadilan. Yohanes Pembaptis pun harus jadi martir.
Raja Herodes Antipas menjadi pengingat akan bahaya
sikap sombong dan penolakan terhadap tobat. Orang yang tidak mau bertobat akan
semakin mengalami kebutaan rohani. Sebaliknya,
pertobatan tidak hanya membawa pengampunan, tetapi juga memungkinkan Allah
untuk mengubah luka-luka dosa menjadi instrumen kasih karunia. Hal ini bisa
kita temukan dalam figur Raja Daud. Raja Daud tidak sempurna. Dia juga pernah
melakukan kesalahan yang mendatangkan petaka dalam keluarganya. Namun, karena
kerendahan hati dan ketulusannya, Daud beroleh belas kasih Allah.
Semoga kita pun dapat
meneladani kerendahan hati dan ketulusannya itu.