
Sang Bapa menampakkan kerahiman tanpa batas dan cinta yang tak bersyarat. Dari diri sang Bapa terpancar pengampunan kekal bagi semua anak-anaknya.
(Retrieved from https://www.kaj.or.id/read/2016/05/14/9880/the-return-of-the-prodigal-son.php)
Hari Biasa Pekan
Prapaskah II
Sabtu, 7 Maret 2026
Bacaan:
Mi. 7:14-15.18-20
Mzm. 103:1-2.3-4.9-10.11-12
Luk. 15:1-3.11-32
“Anak
atau Bapa?”
Sobat-sobat Gaung yang terkasih
Perumpamaan tentang anak
yang hilang adalah cerita tentang dampak mendalam dari dosa, kehancuran diri,
dan kerahiman Allah yang tiada terbatas. Perumpamaan ini memberikan peneguhan
dan harapan bagi para pendosa yang ingin berubah. Ia menunjukkan bahwa Allah
menyambut para pendosa dan mengampuni dosa mereka selama mereka kembali
kepada-Nya dengan tulus.
Hal lain yang perlu dilihat
dari perumpamaan ini adalah panggilan untuk menjadi seperti Bapa yang penuh
kasih. Dalam perumpamaan ini, kita memiliki tiga tokoh utama, yaitu anak
bungsu, anak sulung, dan sosok Bapa. Anak bungsu dan anak sulung sama-sama
menghilang. Anak bungsu menghilang karena ia memberontak dan menjauh dari Bapa.
Kepergiannya merupakan
sebuah penolakan total terhadap rumah dalamnya ia dilahirkan dan dibesarkan. Berbeda dengan hilangnya si anak bungsu,
hilangnya si anak sulung lebih sulit untuk dilihat dan dikenali. Secara
lahiriah, si anak sulung memang mengerjakan segala sesuatu yang dikerjakan oleh
anak yang baik. Namun, di dalam
batinnya, si anak sulung sebenarnya jauh dari Bapa-nya. Ketika dihadapkan
dengan kegembiraan sang Bapa atas kepulangan si bungsu, suatu kuasa gelap
meledak dan muncul dari dalam diri si bungsu. Dari sana, kelihatanlah pribadi
yang sombong, pendendam, egois, dan tidak ramah.
Berhadapan
dengan dua kondisi tersebut, kita sekalian dipanggil untuk meneladani figur
orangtua atau Bapa dari kedua anak tersebut. Sang Bapa menampakkan kerahiman
tanpa batas dan cinta yang tak bersyarat. Dari diri sang Bapa terpancar
pengampunan kekal bagi semua anak-anaknya. Kepergian anak-anaknya tidak membuat
sang Bapa menaruh dendam, marah, serakah, dan cemburu. Dari kedalaman hatinya,
sang Bapa senantiasa menunggu untuk merengkuh anak-anaknya yang hilang.