
Selama dua hari penyelenggaraan, suasana kegiatan terasa sangat kondusif dan hangat. Para peserta terlihat memiliki semangat dan antusiasme yang tinggi dalam mengikuti setiap sesi pembelajaran. Kesetiaan mereka mengikuti jalannya acara terlihat jelas; meskipun berlangsung seharian penuh, tidak tampak rasa lelah mengurangi perhatian dan keikutsertaan mereka.
Dalam prosesi tersebut, Diakon Hendra didampingi dan diantar oleh keluarga serta rombongan umat dari Stasi Papang, Paroki St. Arnoldus Janssen Ponggeok. Sebagai wujud penyatuan iman dan budaya, ia dikalungi selendang leros, dikenakan topi khas Congkar, serta sarung Punca Titi yang menjadi ciri budaya masyarakat setempat.
Sepanjang prosesi, Sakramen Mahakudus ditahtakan di dalam monstrans dan dinaungi sebuah kemah sederhana yang dirancang oleh anggota Orang Muda Katolik (OMK) paroki. Para anggota OMK bergotong-royong memikul kemah tersebut sepanjang jalur perarakan sebagai bentuk penghormatan dan penjagaan terhadap Sakramen Mahakudus yang dibawa oleh para imam.
Pendamping kelompok anak mesti jeli dan memperhatikan setiap anak dengan keunikannya. Perlakuan kepada anak harus disesuaikan dengan kemauan anak, bukan atas kemauan pendamping. Mendengar mereka kemudian mengarahkan untuk sesuatu yang lebih baik, yang berguna dan berdaya mengangkat martabat luhur mereka.
Pusat Pastoral Keuskupan Keuskupan Ruteng mengadakan sosialisasi Sinode IV dan Aksi Puasa Pembangunan (APP) serta katekese bahan atau materi KPPK dan Komuni Pertama untuk paroki-paroki pedalaman yang bertempat di aula Paroki St Petrus Colol dengan peserta para Pastor Paroki, Pastor Rekan dan para utusan masing-masing paroki.
Kegiatan kerja bakti bersama dilakukan oleh keluarga besar SMAN 1 Sambi Rampas yang mengerahkan seluruh siswa-siswi ke lokasi pembangunan aula paroki St Eduardus Watunggong. 500 an siswa-siswi mengumpulkan batu kemudian membawanya ke titik kerja yang sudah ditentukan khususnya di bagian pengecoran lantai.